Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

BNPT Teken Nota Kesepahaman dengan 6 Perguruan Tinggi

Selasa 18 Sep 2018 18:58 WIB

Red: Ratna Puspita

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Suhardi Alius

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Suhardi Alius

Foto: Republika TV/Fakhtar Khairon Lubis
Nota kesepahaman terkait penanggulangan radikalisme dan terorisme di kampus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menandatangani nota kesepahaman dengan enam perguruan tinggi negeri dan swasta di Semarang, Jawa Tengah. Nota kesepahaman terkait penanggulangan radikalisme dan terorisme di lingkungan kampus.

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan di kampus Universitas Negeri Semarang, Selasa, oleh Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius dan rektor enam perguruan tinggi tersebut. Enam perguruan tinggi itu, yakni Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Semarang, Politeknik Negeri Semarang (Polines), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, dan Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin).

"Kerja sama ini akan memberikan suatu produk, bagaimana mencari jalan yang terbaik supaya mahasiswa betul-betul punya daya tahan dan mereka memainkan peran-peran positif," kata Suhardi dikutip dari siaran pers.

Menurutnya, bentuk kerja sama yang ditandatangani ini untuk penanggulangan terorisme. Bentuknya, yakni pendidikan, pelatihan, pengkajian, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan.

Sementara itu saat memberikan kuliah umum di tempat yang sama, Suhardi mengingatkan para mahasiswa baru kemungkinan mereka akan didekati oleh kelompok radikal. "Mahasiswa baru itu menjadi tempat masuknya paham radikal terorisme. Hati-hati kalau nanti diajak atau ditemani mencari tempat kost, lalu diajak masuk perkumpulannya," ujar Suhardi.

Mantan kepala Divisi Humas Polri ini juga menekankan perlunya peningkatan nilai kebangsaan di kalangan mahasiswa karena mulai melemah dan terkikisnya nilai kebangsaan pada anak muda. "Membahas masalah kebangsaan jangan pakai akal dan logika saja, tetapi pakai hati. Hati itu tidak bisa bohong, hati tahu mana yang salah, mana yang benar," ujarnya.

Hadir pula dalam kegiatan itu Wakapolda Jateng Brigjen Pol Ahmad Luthfi, Gubernur Akpol yang diwakili Kombes Pol Burhanudin, dan pimpinan berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA