Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

UMP Menjadi Tuan Rumah Urecol

Rabu 05 Sep 2018 16:43 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Yusuf Assidiq

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Foto: wordpress.com
Rasio jumlah peneliti di Indonesia masih kalah jauh dibandingkan negara tetangga.

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO -- Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Jawa Tengah, menjadi tuan rumah sekaligus penyelenggara kegiatan University Reseach Colloqium (Urecol) ke-8. Kegiatan yang dihadiri perwakilan dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan Perguruan Tinggi Aisyiyah (PTA) se Jateng dan DIY ini, dibuka secara resmi di Aula Ukuwah Islamiah, Selasa (4/9).

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat (LP3M) UMP, Dr Suwarno, menyebutkan kegiatan Urecol merupakan wadah agar seluruh PTM bisa saling bersinergi dalam melakukan kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat.

Rektor UMP Dr Syamsuhadi Irsyad mengatakan, melalui kegiatan Urecol, diharap para akademisi PTM/PTA di Jateng bisa makin meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian. ''Urecol diibaratkan menjadi tempat persemaian para peneliti dalam merumuskan tema kegiatan berbasis pengembangan sumber daya menuju masyarakat madani berkearifan lokal,'' katanya.

Lebih lanjut rektor menjelaskan, rasio jumlah peneliti di Indonesia masih kalah jauh bila dibandingkan negara tetangga. Di Indonesia, rasio jumlah peneliti dibanding jumlah penduduk masih 89 peneliti per satu juta penduduk.

''Di negara-negara ASEAN, Singapura menjadi jawara peneliti karena memiliki rasio 6.658 peneliti per satu juta penduduk,'' katanya.

Mengutip data LIPI 2017, jumlah peneliti di Indonesia hanya sebanyak 9.685 orang, baik dari kalangan perguruan tinggi maupun kementerian. Bahkan data dari Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) tahun 2016, kuantitas periset di Indonesia adalah yang paling sedikit di antara negara-negara anggota G-20.

''Untuk itu, jumlah peneliti masih perlu diperbanyak lagi karena bangsa yang mampu bertahan dan berkembang adalah bangsa yang memiliki daya saing dalam memprioritaskan kegiatan penelitian,'' jelasnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA