Wednesday, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 December 2018

Wednesday, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 December 2018

Aktuaris Minim, Kampus Didorong Buka Prodi Aktuaria

Kamis 06 Dec 2018 11:22 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Esthi Maharani

Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Prof Ainun Na'im

Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Prof Ainun Na'im

Foto: Republika/Gumanti Awaliyah
Lulusan dan aktuaris sangat dibutuhkan di industri dan masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mendorong perguruan tinggi untuk membuka program studi (Prodi) aktuaria. Sebab prodi aktuaria dinilai masih sangat jarang, padahal lulusan dan aktuaris sangat dibutuhkan di industri dan masyarakat.

Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Prof Ainun Na'im menyatakan, prodi aktuaria baru ada di beberapa universitas di Indonesia. Seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Pelita Harapan (UPH), Universitas Padjajaran (Unpad), Universitas Brawijaya (UB), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan Universitas Parahyangan (Unpar).

"Jadi memang program aktuaria ini belum banyak di Indonesia, sementara itu industri keuangan atau asuransi itu berkembang. Jadi kita perlu menambah lagi prodi-prodi atau pendidikan di bidang aktuaria," kata Prof Ainun usai membuka simposium nasional: Aktuaria di Era Industri 4.0 di Hotel Atlet Century, Kamis (6/12).

Menurut Ainun, Kemenristekdikti terus melakukan sosialisasi secara masif bahwa bidang aktuaria penting untuk dikembangkan. Dia berharap, upaya tersebut bisa menyadarkan masyarakat dan pendidikan tinggi atas urgensi dibukanya prodi aktuaria.

Terlebih, kata dia, para era revolusi industri 4.0 ekonomi digital semakin berkembang. Sehingga ilmu aktuaria yang mempelajari tentang pengelolaan resiko keuangan yang menggabungkan ilmu matematika, statistika, ekonomi, manajemen bisnis dan sains komputer menjadi penting.

"Aktuaria terkait dengan resiko keuangan, tentu berbagai model fintech atau lainnya akan berkaitan," jelas dia.

Menurut dia, saat ini Kemenristekdikti juga te;ah menggandeng sebuah lembaga non-goverment dari Kanada yakni Risk Management, Economic Sustainability and Actuarial Science Development in Indoensia (READI). Yang mana model pembelajaran dari Kanada juga akan diadopsi, sehingga nantinya prodi aktuaria bisa bekerja sama dengan industri.

"Esensinya adalah mahasiswa itu akan diberi kesempatan untuk melakukan praktek di industri, proses belajarnya juga kita kerjasama kan dengan industri," ungkap Ainun.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA