Saturday, 8 Rabiul Akhir 1440 / 15 December 2018

Saturday, 8 Rabiul Akhir 1440 / 15 December 2018

Mahasiswa UNS Ciptakan Beton dari Limbah Tulang Sapi

Jumat 12 Oct 2018 15:17 WIB

Rep: Binti Sholikah/ Red: Gita Amanda

Tiga mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Yesika Azzukhruf, Panji Pramayswara Pamilih dan Farhan Nurfi Afriansyah, membuat inovasi beton kualitas tinggi dari campuran limbah marmer dan tulang sapi.

Tiga mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Yesika Azzukhruf, Panji Pramayswara Pamilih dan Farhan Nurfi Afriansyah, membuat inovasi beton kualitas tinggi dari campuran limbah marmer dan tulang sapi.

Foto: Binti Sholikah/REPUBLIKA
Inovasi diklaim menghasilkan beton dengan kualitas tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Mahasiswa D3 Teknik Sipil Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo membuat inovasi pembuatan beton dari campuran limbah tulang sapi dan limbah marmer. Inovasi tersebut meraih juara kedua dalam kompetisi inovasi beton internasional (International Concrete Competition) 2018 yang diadakan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya beberapa waktu lalu. 

Inovasi tersebut diciptakan tim SS-02 Adhirajasa yang beranggotakan Yesika Azzukhruf, Panji Pramayswara Pamilih dan Farhan Nurfi Afriansyah. Inovasi diklaim menghasilkan beton dengan kualitas tinggi. 

Ketiganya menciptakan sebuah beton jenis Self Compacting Concrete (SCC). SCC merupakan beton mutu tinggi yang dapat memadat sendiri. Panji menjelaskan, jenis SCC merupakan jenis beton ramah lingkungan dan kantong. Metode SCC membuat beton yang bisa memadat sendiri tanpa memerlukan vibrasi atau upaya lain untuk memadatkan beton. 

"Banyak limbah yang terbuang dari dua bahan tersebut, sehingga kami memanfaatkannya. Keduanya dapat membuat beton lebih cepat mengeras dan juga dapat meningkatkan kuat tekan betonnya," terang Panji.

Dalam metode tersebut, limbah marmer diolah sampai bentuknya kecil-kecil seperti kerikil. Kemudian limbah tulang sapi dihaluskan sampai sehalus semen. Limbah marmer tersebut menjadi campuran kerikil sedangkan bubuk tulang sapi dicampur dengan semen. 

Yesika menjelaskan, inovasi tersebut berawal dari keinginan mengikuti lomba bertema seputar mutu beton. Kemudian ketiganya melakukan studi literatur mencari cara agar beton dalam sehari sudah mengeras.

Melalui sejumlah jurnal, mereka menemukan kalsium oksida (CaO) yang memiliki komposisi besar dalam semen. Kandungan CaO mempercepat pengerasan beton. Kandungan CaO ternyata dimiliki oleh tulang sapi. Karenanya, tulang sapi mereka pilih sebagai campuran membuat beton. 

Sedangkan marmer memiliki unsur kimia utama berupa Silikon Dioksida/Silikat (SiO2), Kalsium Oksida (CaO) dan magnesium Oksida (MgO). Kandungan kimia itu sebagian terdapat dalam semen. Selain unsur kimia, marmer juga dikenal memiliki kuat tekan yang cukup tinggi.

Mereka mendapatkan limbah tulang sapi dari lingkungan sekitar dan limbah marmer dari sisa hasil produksi marmer. 

Komposisinya, bubuk tulang sapi hanya 7,5 persen dari total penggunaan semen. Sedangkan marmer dicampur kerikil dengan komposisi 40 persen kerikil dan 60 persen marmer. 

"Keunggulan inovasi kami, beton biasa kerasnya tiga hari. Kami cuma butuh waktu satu hari," kata Yesica saat ditemui wartawan di gedung Rektorat UNS, Kamis (11/10). 

Selain itu, saat diuji, beton tersebut lebih kuat dengan kekuatan tekan mencapai 20 Mega Pascal pada umur 24 jam atau sekitar 41,6 persen dari kuat tekan 28 hari. 

Biayanya juga lebih murah karena menggunakan bahan dari limbah. Bahan-bahan tersebut juga cukup mudah dicari di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) maupun di rumah makan. 

Jika diaplikasikan untuk skala besar, efisiensinya terasa signifikan. Yesica menyebut, efisiensi per meter kubik bisa mencapai 7,78 persen dibandingkan menggunakan material biasa. Secara mominal, per meter kubik diperkirakan bisa hemat sekitar Rp 100 ribu.

Menurut Yesika, inovasi beton mereka bisa diaplikasikan untuk pembuatan jalan. Sebab, proses pengerasan beton mereka tidak memerlukan waktu lama. Jika beton biasa butuh sekitar tiga hari baru mendapat 40 persen kuat tekan, sedangkan beton inovasi mereka cukup satu hari. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES