Sunday, 7 Rajab 1444 / 29 January 2023

Mahasiswa tidak Hanya Butuh Gelar untuk Bekerja

Selasa 25 Sep 2018 17:48 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Ani Nursalikah

Ilustrasi Mahasiswa

Ilustrasi Mahasiswa

Foto: Republika/Prayogi
Saat ini masih kurang tersedia tenaga kerja dengan kompetensi yang memadai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Untuk memasuki dunia kerja, mahasiswa tidak hanya membutuhkan gelar sarjana. Dunia kerja membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki berbagai kompetensi yang ternyata tidak banyak diajarkan di bangku kuliah, namun bisa dipupuk melalui sikap selama menempuh pendidikan tinggi.

"Yang paling dibutuhkan di dunia kerja itu bukan hanya ijazah dan IPK saja, tetapi sikap-sikap seperti budaya kerja yang baik, komunikasi, kemampuan bekerja dalam tim, kemampuan berbahasa asing, membaca, menulis, dan matematika itu juga penting," kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti Intan Ahmad dalam acara wisuda (UNJ) di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta, Selasa (25/9).

Intan yang juga menjabat sebagai Plt Rektor UNJ menjelaskan, saat ini hubungan antara dunia pendidikan dan dunia pekerjaan di seluruh dunia sedang menghadapi masalah besar, yakni pengangguran terdidik dan kurang tersedianya tenaga kerja dengan kompetensi yang memadai. Hal itu terjadi, karena masih terjadinya kesenjangan atau missmatch antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri.

“Tampaknya, ini semua harus menjadi perhatian kita bersama. Ada survei di 8.000 universitas dari 20 negara, jadi memang ada masalah yang dibutuhkan dunia kerja dengan yang dihasilkan kampus. Tapi jika kita ketahui di mana kekurangannya maka kampus bisa menyesuaikan,” kata Intan.

Karena itu dia berpesan agar lulusan pendidikan tinggi tidak hanya berperan sebagai pencari kerja tetapi juga diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan menjadi wirausahawan. Selain itu, para sarjana juga diharapkan dapat menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai konsep utama daya saing dan pembangunan bangsa termasuk tentunya dalam menyikap perkembangan Revolusi Industri 4.0 saat ini.

Menurut dia, penyesuaian konsep yang sejalan dengan perkembangan zaman sangat penting agar dapat melengkapi diri dengan berbagai keterampilan baik teknis atau hard skill maupun soft skill, pengetahuan, dan kemampuan yang akan mendukung keberlanjutan karier seperti kebiasaan kerja yang baik, pandai berkomunikasi, memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, dan memiliki empati terhadap rekan kerja.

“Para lulusan saat ini juga harus mampu menguasai kemampuan profesi masa depan yakni literasi data, literasi teknolgi, dan literasi manusia,” ujar Intan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA