Minggu, 9 Rabiul Akhir 1440 / 16 Desember 2018

Minggu, 9 Rabiul Akhir 1440 / 16 Desember 2018

Biayai Kuliah S2 dengan Memulung Sampah

Kamis 02 Agu 2018 03:07 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Esthi Maharani

Staf Humas SMK Negeri 6 Malang, Sulaiman Sulam mampu mengeyam pendidikan tinggi S2 dari memulung sampah.

Staf Humas SMK Negeri 6 Malang, Sulaiman Sulam mampu mengeyam pendidikan tinggi S2 dari memulung sampah.

Foto: Republika/Wilda Fizriyani
Pendidikan tinggi pun dapat dicapai bagi mereka yang memiliki biaya terbatas.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Staf Humas SMK Negeri 6 Malang, Sulaiman Sulam ingin membuktikan siapapun dapat mengenyam pendidikan. Bahkan, pendidikan tinggi dapat dicapai bagi mereka yang memiliki biaya terbatas. Dalam hal ini seperti Sulaiman yang kini mampu mengenyam pendidikan S2 di salah satu perguruan tinggi di Malang dari memulung sampah.

Sulaiman menceritakan bagaimana pria asal Flores ini dapat terlibat dalam dunia persampahan. Sekitar 2011, Sulaiman yang kala itu telah menjadi guru tengah mengisi bensin di salah satu SPBU Malang.

"Pas isi bensin, saya ambil uang di kantong yang di dalamnya ada kertas juga. Uangnya saya ambil, kertasnya saya buang. Gara-gara itu saya ditegur petugas SPBU. Saya seorang sarjana guru tentu malu ditegur petugas yang usianya 17 sampai 18 tahun," kata pria yang menetap di wilayah Sukun, Malang, Selasa (31/7).

Selama perjalanan pulang, Sulaiman mulai introspeksi diri atas sikapnya di SPBU Malang. Membuang sampah jelas sangat dilarang di manapun terutama lokasi publik. Dari sinilah, Sulaiman mulai bertekad untuk mengubah cara hidupnya dalam memandang sampah.

Sekitar 2012, Sulaiman mulai aktif terlibat dalam memberikan pendidikan lingkungan di sekolahnya. Di tahun serupa juga dia dikirim kepala sekolah untuk melakukan pelatihan pengelolaan sampah selama tiga pekan.

"Saya kebetulan selalu memberikan edukasi masalah sampah pada anak-anak. Dan saat itu belum tahu tentang bank sampah," jelasnya.

Selama beberapa tahun, Sulaiman konsentrasi memberikan pembelajaran apapun terkait sampah. Dalam hal ini termasuk mengajarkan bagaimana mengelola kompos. Lalu hal ini berlanjut sampai akhirnya sekolah memiliki bank sampah pada 2016.

"Dan waktu itu program SPP berbayar sampah sempat viral juga di media lokal dan nasional. Kenapa bisa viral? Itu karena kemanfaatannya. Apa mungkin bayar biaya pendidikan itu bisa dari sampah? Untuk buktikannya, saya coba sendiri," terang pria yang kini berusia 34 tahun tersebut.

Pembuktian ini, kata Sulaiman, sebenarnya bertujuan memberikan edukasi pada masyarakat Indonesia. Ia ingin membuktikan untuk mengenyam pendidikan tinggi tidak perlu menunggu kaya dahulu. Atau, tak perlu menunggu bantuan biaya dari orangtua.

Menurut Sulaiman, semua pendidikan dapat dienyam oleh siapapun dalam keadaan apapun. Jika berusaha, kata dia, segalanya dapat tercapai dengan mudah. Hal ini terbukti dengan dirinya yang mampu masuk pendidikan tinggi S2 jurusan administrasi publik pada 2018 di STIA Malang.

Sulaiman mengatakan, biaya pendidikan tingginya diperoleh dari hasil memulung sampah di sekolah dan rumah setiap hari. Dari sejumlah jenis sampah, Sulaiman paling sering mengambil sampah kertas hasil kerja. Dalam dua pekan setidaknya dia mampu mengumpulkan lima kilogram kertas.

Di aturan bank sampah, kata Sulaiman, satu kilogram kertas dihargai Rp 1.700. Tak hanya kertas, dia juga tak malu mengumpulkan sampah botol bekas siswanya di sekolah. Jika dalam keadaan bersih, satu kilogram botol dibanderol Rp 5.500.

"Jadi kalau ada kertas print bekas teman, saya ambil. Yang tidak terpakai di TU juga. Di rumah juga ke mertua dan istri saya selalu minta mereka untuk menyimpan sampahnya," ujar dia.

Dalam satu bulan, Sulaiman berhasil mengumpulkan uang setidaknya Rp 200 sampai 300 ribu per bulan. Uang ini dirasa dapat membantu karena dirinya diperbolehkan membiayai kuliah dengan cara dicicil setiap bulan. Satu semester, dia melanjutkan, Sulaiman harus mengeluarkan uang sekitar Rp 5,5 juta. 

"Harapan saya dengan ini orang tidak menyerah untuk kuliah karena tidak ada uang. Alasan tidak punya uang itu klasik. Kalau kita mau berjuang dan tak malu, uang dari sampah yang menurut orang menjijikan itu nyatanya bisa membantu mereka," jelasnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES