Sabtu, 7 Zulhijjah 1439 / 18 Agustus 2018

Sabtu, 7 Zulhijjah 1439 / 18 Agustus 2018

Mahasiswa UII Kembangkan Inhaler dari Limbah Kulit Kakao

Rabu 18 Juli 2018 15:10 WIB

Rep: Eric Iskandarsjah Z/ Red: Yudha Manggala P Putra

Kakao memiliki banyak manfaat untuk tubuh.

Kakao memiliki banyak manfaat untuk tubuh.

Foto: Reuters
Inhaler bernama Nano Shark Kao ini untuk mengobati penyakiti bronkitis

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN — Kelompok mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) meneliti potensi limbah kulit kakao sebagai bahan obat herbal bagi penyakit bronkitis. Limbah tersebut mereka kembangkan dalam bentuk cair dan dikemas sebagai inhaler semprot yang dinamai dengan Nano Shark Kao.

Salah satu anggota tim, Ratih Lestari, mahasiswa Kimia UII angkatan 2015, mengatakan ide untuk mengembangkan inhaler ini karena masih belum optimalnya pemanfaatan limbah kakao untuk mengobati penyakit pernapasan.

“Kami berangkat dari keprihatinan tentang tingginya kematian akibat penyakit pernapasan di berbagai belahan dunia terutama Indonesia dan permasalahan lingkungan yakni masih belum optimalnya pemanfaatan limbah kulit kakao”, kata Ratih kepada Republika, Rabu (18/7).

Ditambahkan Aditya Sewanggara, inovasi dalam pembuatan nano herbal dari limbah kulit kakao ini berupa kombinasi dari metode SNEEDS dengan metode spray inhaler. Adanya pembuatan nano herbal dari limbah tersebut diharapkan dapat menurunkan risiko kematian penderita bronkitis akibat rokok di Indonesia.

“Keunggulan dari Nano Shark Kao ini selain ramah lingkungan dibandingkan yang lainnya dan renewable karena bahannya berasal dari dalam negeri sehingga lebih murah, serta proses pembuatannya tidak terlalu rumit”, ujarnya.

Diharapkan dengan adanya Nano Shark Kao, angka kematian akibat rokok dapat ditekan serta menjadi salah satu solusi terhadap permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh limbah kulit kakao.

 

Proses pembuatannya sendiri diawali dengan mengeringkan limbah kulit kakao dengan menggunakan oven selama kurang lebih 2 x 24 jam. Selanjutnya limbah itu direbus menggunakan etanol teknis selama kurang lebih 1 x 24 jam.

“Kemudian dicampurkan dengan tween dan capryol  yang berfungsi sebagai surfaktan dan co-surfaktan yang dapat mempermudah pencampuran antara ekstrak kulit kakao dengan pelarut polietilen glikol. Pengunaan PEG sendiri digunakan agar dapat meningkatkan distribusi (penyebaran) obat di dalam tubuh manusia yang kemudian semua bahan tersebut dicampur/dihomogenkan dengan ultrasonikasi,” kata dia.

Kemudian didapatkan nano herbal dari kulit kakao berupa nano spray yang dapat menjadi obat herbal bagi penyakit bronkitis kronik dengan cara pemakaian secara inhaler. Penelitian yang juga melibatkan Mahasiswa Kimia angkatan 2015 Aditya Sewanggara, dan Kartika Puspitasari dari Farmasi angkatan 2016 ini masih dalam tahap uji dan belum siap untuk dipasarkan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES