Sunday, 9 Rabiul Akhir 1440 / 16 December 2018

Sunday, 9 Rabiul Akhir 1440 / 16 December 2018

Mahasiswa ITS Ciptakan Material Pemurni Biogas dari Limbah

Jumat 13 Jul 2018 09:59 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Esthi Maharani

Tambang batu bara

Tambang batu bara

Biogas mengandung gas metana murni

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Bottom ash atau abu dasar kerap menjadi limbah utama bagi tiap industri Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Hasil pembakaran batu bara ini biasanya ditimbun di suatu area industri PLTU dan tidak dimanfaatkan secara maksimal. Apalagi abu dasar termasuk limbah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya), yang tentunya menimbulkan bahaya yang serius bagi lingkungan.

Terkait hal tersebut, tiga mahasiswa dari Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil memanfaatkan limbah abu dasar sebagai material pemurni biogas yang ramah lingkungan. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Pradena Bhesari Fitrah Laharto, Aristin Putri Kusuma Anggraini, dan Umirul Solichah Fauzany, dimana pencetus idenya adalah mahasiswa pascasarjana Kimia, Randy Yusuf Kurniawan.

Rendy menjelaskan, biogas mengandung gas metana murni, sementara gas metana di alam bercampur dengan gas pengotor. Untuk memperoleh gas murni tersebut dari alam, harus dilakukanlah teknik pemurnian gas alam.

“Biasanya teknik pemurnian tersebut sangat mahal karena membutuhkan larutan-larutan kimia yang harganya juga relatif mahal, berbeda dengan penelitian kami yang menggunakan limbah,” kata Randy dalam siaran persnya, Jumat (13/7).

Terkait dengan limbah yang digunakan, Randy menuturkan, limbah abu dasar atau bottom ash yang diperoleh memiliki komponen penyusun utama, yakni silika. Silika tersebut dibentuk menjadi mesopori dan diteliti memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi gas metana dari pengotor seperti karbondioksida dan asam sulfida.

“Mesopori merupakan material padatan berpori yang memiliki ukuran meso, yakni 2 sampai 50 nanometer,” ujar Randy.

Ketua tim, Pradena Bhesari Fitrah Laharto menambahkan, silika mesopori masih belum cukup untuk meningkatkan daya adsorpsi gas metana. Perlu penambahan zat kimia polietilen glikol (PEG) 4000. Angka 4000 menunjukkan massa molekul PEG yang memiliki sifat kekentalan yang rendah, sehingga ketika diimpregnasi dengan mesopori, maka porinya tidak tertutup.

“Jika pori tersebut terbuka, maka adsorpsi gas metana menjadi lebih mudah dan molekul gas lain akan tertahan, sehingga didapatkan metana murni” kata Fira.

Fira juga menjelaskan, impregnasi merupakan teknik menambahkan suatu material seperti polietilen glikol ke dalam bagian pori (Silika Mesopori). Dalam melakukan penelitiannya, tim mengambil sampel limbah abu dasar sebanyak lima gram dengan kandungan berat 1,15 gram silika di dalamnya.

“Kandungan silika tersebut sangat sedikit, sehingga kami perlu meningkatkan kandungan silika dari 1,15 gram menjadi 2,165 gram dengan pemisahan besi dan kalsium agar bagus hasilnya,” ujat mahasiswa semester tujuh itu. 

Anggota tim, Umirul Solichah Fauzany berharap, penelitian timnya ini bisa dikembangkan dan digunakan oleh industri biogas sebagai material pemurni biogas yang ramah lingkungan. Sehingga biaya pembelian biogas oleh masyarakat tidak begitu mahal.

Tim ini juga berharap bisa membawa karyanya turut bertarung di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) di Yogyakarta, akhir Agustus 2018. Di dalam ajang kompetisi bidang penelitian ini, diharapkan juga karya mereka mampu menjadi juara nantinya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES