Wednesday, 16 Muharram 1440 / 26 September 2018

Wednesday, 16 Muharram 1440 / 26 September 2018

Mahasiswa UB Gunakan Pasir Laut untuk Penyerap Minyak

Rabu 11 July 2018 03:16 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) sukses memanfaatkan pasir laut sebagai  bahan penyerap minyak.

Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) sukses memanfaatkan pasir laut sebagai  bahan penyerap minyak.

Foto: dok. Humas UB
Pasir laut dipilih karena kandungan silika di Indonesia cukup tinggi

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB)  memanfaatkan pasir laut sebagai  bahan penyerap minyak. Hal ini dilakukan oleh tiga mahasiswa dari Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik (FT), Bramantya Losendra Primamas Yonando dan Muhammad Rifaldi.

Ketua tim Bramantya menjelaskan, inovasi bermula data yang menyebutkan kegiatan pengolahan minyak pasti berdampak positif bagi perekonomian negara. Namun sayangnya, dapat berdampak buruk bagi lingkungan dalam bentuk tumpahan minyak.

Tumpahan minyak termasuk dalam katagori limbah B3, karena sifat dan konsentrasinya dapat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Terlebih jika tumpahan terjadi di laut, kata dia, akan menyebabkan rusaknya ekosistem laut. Menurut Bramantya, metode paling umum untuk menghilangkan tumpahan minyak di laut tersebut biasanya insitu burning.

"Yaitu membakar minyak langsung di laut," ujar Bramantya.

Meski terdapat metode tersebut, Bramantya menilai, itu masih belum tepat. Metode itu tidak menyelesaikan masalah lingkungannya, tapi malah menambah polusi udara.

Dari permasalahan tersebut, dia bersama rekannya mencoba membuat sebuah inovasi untuk dijadikan absorben (penyerap) minyak berbahan Smart Material Silika Aerogel. Mereka membuat silika aerogel berbahan dasar pasir laut dengan di bawah bimbingan dosen, Rama Oktavian.

Bramantya mengungkapkan, pasir laut dipilih karena kandungan silika di Indonesia cukup tinggi. Bahkan, dia melanjutkan, bisa mencapai lebih dari 60 persen dari seluruh kandungan pasir. "Harganya pun murah dan terjangkau, sehingga memudahkan dalam penelitian kami,” ujar Bramantya melalui keterangan resmi yang diterima Republika.co.id, Selasa (10/7).

Selain itu, Anggota Tim Losendra Primamas Yonando menambahkan, silika aerogel mempunyai sifat hidrofobik. Dengan kata lain, kandungan ini cenderung menolak air sedangkan oliofilik lebih menyerap minyak. Oleh karena itu, aerogel dianggap dapat meyerap minyak di laut alih-alih airnya yang terserap.

Penelitian yang didanai Kemenristekdikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ini menggunakan TEOS (Tetraetilortosilikat) sebagai pemodifikasi permukaan aerogel.  TEOS akan mengubah permukaan aerogel menjadi non-polar sehingga akan menolak senyawa-senyawa polar seperti air. Kemudian juga mampu menyerap senyawa-senyawa non-polar seperti minyak.

Menurut Losendra, hasil dari penelitian ini didapat silika aerogel dengan sifat hidrofilik dengan sudut kontak air rata-rata di atas 140 derajat. Lalu juga dapat menyerap minyak di atas 10 g/g silika aerogel. Ke depan, ia berharap penelitian ini dapat berlanjut sehingga bisa diterapkan di lapangan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Peselam Wanita di Saudi Arabia

Selasa , 25 September 2018, 22:23 WIB