Monday, 10 Zulqaidah 1439 / 23 July 2018

Monday, 10 Zulqaidah 1439 / 23 July 2018

Kontes Robot Indonesia Berperan Mengasah Kemampuan SDM

Selasa 10 July 2018 08:08 WIB

Rep: Eric Iskandarsjah Z/ Red: Esthi Maharani

Ketua Panita Pelaksana Kontes Robot Indonesia (KRI) 2018, Sri Atmaja P Rosyidi, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan AIK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Hilman Latief  dan Ketua Dewan Juri KRI 2018, Wahidin Wahab saat pemaparan terkait kegiatan KRI dalam konferensi pers di UMY pada Senin (9/7).

Ketua Panita Pelaksana Kontes Robot Indonesia (KRI) 2018, Sri Atmaja P Rosyidi, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan AIK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Hilman Latief dan Ketua Dewan Juri KRI 2018, Wahidin Wahab saat pemaparan terkait kegiatan KRI dalam konferensi pers di UMY pada Senin (9/7).

Foto: Republika/Eric Iskandarsjah Z
Salah satu kendala dunia robotik adalah karena keterbatasan komponen

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL— Kontes Robot Indonesia (KRI) Nasional 2018 siap digelar. Berbagai persiapan telah dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) selaku tuan rumah. Kontes robot ini merupakan kerjasama antara Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) RI dengan UMY yang akan diselenggarakan pada 10 hingga 13 Juli 2018 mendatang.

Ketua Dewan Juri KRI 2018, Wahidin Wahab mengatakan, meski hingga saat ini belum ada robot karya anak bangsa yang berhasil menembus dunia industri, namun KRI memiliki peran dalam mengasah kemampuan sumber daya manusia.

“Robot kompetisi memiliki aspek teknis yang lebih rumit dari robot industri. Sehingga, peserta kompetisi otomatis memiliki kemampuan dasar terkait robot industri, termasuk untuk memberbaiki kerusakan,” ujar Wahidin dalam konferensi pers terkait KRI di UMY, Senin (9/7).

Ia menilai, salah satu kendala anak bangsa dalam memasuki dunia robotik pada bidang industri adalah karena keterbatasan komponen. Pasalnya, hingga saat ini, mayoritas komponen robot merupakan komponen yang diproduksi di luar negeri

Artinya, lanjut dia, jika anak bangsa mencoba membuat robot industri, maka harga dan skala ekonomi-nya akan sulit untuk bersaing dengan produsen-produsen besar. “Oleh karena itu, beberapa mantan peserta KRI lebih fokus untuk melanjutkan usaha dibidang perlengkapan robot sederhana,” kata dia.

Dengan begitu, lanjutnya, maka para mantan peserta dapat merintis dari produk yang lebih sederhana yang biasanya digunakan oleh anak-anak yang baru mulai mempelajari dunia robotik. Oleh karena itu, ia menilai, untuk saat ini para penggemar robot yang ingin melanjutkan dalam dunia usaha dapat memulai dari aplikasi dan perakitan komponen menjadi sebuah robot sederhana yang dapat dipasarkan untuk anak-anak.

Kontes kecanggihan robot pintar ini sendiri akan diikuti 91 tim dari 48 perguruan tinggi terbaik se-Indonesia, yang sebelumnya telah lolos dalam KRI tingkat Regional 2018. Untuk jumlah penonton, UMY memprediksi akan ada sekitar tiga ribu penonton yang akan memadati venue.

Pada KRI tahun ini terdapat 5 kategori lomba yang akan diikuti oleh para peserta. Kategori yang akan dikompetisikan yakni kategori Kontes Robot Abu Indonesia (KRAI), Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI), Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Beroda, Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Humanoid, dan Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA