Tuesday, 19 Rajab 1440 / 26 March 2019

Tuesday, 19 Rajab 1440 / 26 March 2019

Menristekdikti Targetkan Indonesia Pimpin Publikasi Ilmiah

Selasa 03 Jul 2018 01:28 WIB

Red: Ani Nursalikah

Menristekdikti Mohamad Nasir

Menristekdikti Mohamad Nasir

Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Rendahnya daya saing bangsa salah satunya dari dunia pendidikan tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menargetkan Indonesia mampu memimpin publikasi ilmiah di Asia Tenggara pada 2019.

"Mudah-mudahan di 2019 Indonesia bisa menjadi leader (publikasi ilmiah) di Asia Tenggara," kata Menteri Nasir saat menyampaikan orasi ilmiah dalam peringatan Ulang Tahun Prodi Magister Manajemen (MM) FEB UGM ke-30 di Auditorium Sukadji Ranuwihardjo MM FEB UGM Yogyakarta, Senin (2/7).

Menurut Nasir, cita-cita tersebut telah diimbangi dengan berbagai langkah salah satunya dengan meningkatkan anggaran bidang riset. Dengan demikian, diharapkan lahir publikasi-publikasi ilmiah yang berkualitas. 

"Ini diperuntukkan untuk semua kampus dan PTNBH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum) kita prioritaskan," kata dia. 

Nasir mengatakan jumlah publikasi karya ilmiah di jurnal internasional hingga saat ini tertinggi masih ditempati Malaysia. Ia mengakui jumlah publikasi ilmiah di Indonesia masih rendah.

Hingga 2014 jumlah publikasi ilmiah Indonesia masih mencapai 4.000 publikasi. Sedangkan Singapura di saat yang sama mampu mencapai 19 ribu publikasi dan Malaysia sebanyak 28 ribu publikasi.

"Dengan perbaikan sistem, pada 2017 jumlah publikasi Indonesia mencapai 18.500 sehingga di atas Thailand dengan 16.800 publikasi. Dan pada 2018 ini sudah berhasil melampaui Singapura," kata dia.

Selain publikasi ilmiah, Nasir mengemukakan indeks daya saing Indonesia juga masih rendah. Mengacu data Global Competiveness Index (CGI) 2017, daya saing Indonesia masih berada di peringkat 36 dari 137 negara, jauh di bawah Singapura di urutan tiga, Malaysia urutan 23, dan Thailand di posisi 32.

"Rendahnya daya saing bangsa salah satunya berasal dari dunia pendidikan tinggi. Kualitas lulusan dan kompetensi yang dihasilkan lebih rendah dibanding negara tetangga," kata Nasir.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA