Kamis, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Kamis, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

UGM Beri Santunan ke Polisi yang Gugur di Mako Brimob

Ahad 24 Jun 2018 17:45 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq

Pemberian santunan dari Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) kepada keluarga almarhum Briptu Fandi.

Pemberian santunan dari Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) kepada keluarga almarhum Briptu Fandi.

Foto: Wahyu Suryana.
Penyerahan bantuan tersebut sebagai bentuk kepedulian sesama anggota Kagama.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Keluarga Alumni Universita Gadjah Mada (Kagama), memberikan santunan kepada keluarga Polisi yang gugur di Mako Brimob beberapa waktu lalu. Santunan diterima oleh Jumiati, ibu dari Briptu Fandi Setya Nugroho yang ternytaa merupakan alumni UGM Yogyakarta.

Jumiati (57 tahun) terlihat penuh haru saat secara simbolis menerima santunan yang diberikan langsung Rektor UGM, Panut Mulyono. Rangkulan menantunya sekaligus istri almarhum Fandi, Geha Solichah, terlihat terus diberikan demi menguatkan Jumiati.

Jumiati tampak belum bisa menyangka, kampus UGM, tempat anak tercintanya pernah menuntut ilmu, menjadi tempat yang sama ia menerima santunan atas kepergian Fandi. Namun, semua kesedihan tampak tertutupi rasa bangga ketika Jumiati menunjukkan foto-foto Sang Briptu.

Dalam kesempatan itu, Jumiati menerima santunan senilai Rp 40.300.000, sumbangan dari alumnus UGM yang tergabung dalam Kagama. Diiringi isak tangis kecil, Jumiati menuturkan terima kasih atas kepedulian yang diberikan kepada anak bungsunya tersebut.

Wanita yang sehari-hari bertugas sebagai Polisi Wanita (Polwan) tersebut sempat membagi kisah-kisah Fandi semasa hidup. Menurut Jumiati, Fandi sejak kecil merupakan anak yang periang, dan sempat tidak disangka memiliki keinginan mendaftar untuk jadi polisi.

"Sebelum lulus dari UGM, kebetulan kosnya dekat dengan rumah bapak-bapak polisi, sering ngobrol, dia cerita ke saya mau masuk polisi dan teman-teman di kampusnya mendukung," kata anggota Polres Magelang tersebut.

Akhirnya, Fandi mendaftar ke sekolah calon bintara polisi di Jakarta. Selama menempuh pendidikan, Fandi disebut selalu berprestasi dan masuk dalam daftar peringkat sepuluh besar, sehingga ketika lulus ditempatkan di Densus 88.

"Waktu memilih jadi polisi, saya sudah kasih tahu, risiko jadi polisi itu berat, tapi dia memang senang, waktu pendidikan saja ranking dia bagus, lalu terpilih jadi Densus," ujar Jumiati, sambil menyapu beberapa tetes tangis di kelopak matanya.

Setelah lulus, Fandi sudah bekerja menjalankan tugasnya sebagai polisi sejak 2011 dan sepengetahuan Jumiati, anaknya tekun dan disiplin dalam bertugas. Hingga pertengahan Mei lalu, Jumiati mengaku tidak memiliki firasat apa-apa.

Sampai akhirnya terdengar kabar jika kerusuhan pecah di Mako Brimob, yang melibatkan para napi teroris. Selama tiga hari, Jumiati yang tidak mendapat kabar dari Fandi terus menguatkan diri dan berpikiran positif.

"Setelah melihat berita saya coba kontak tapi tidak bisa dihubungi, lalu saya hubungi istrinya, baru dapat kabar," kata Jumiati.

Walau gugur dalam kerusuhan itu, Jumiati tetap berbesar hati dan berusaha tabah. Bagi Jumiati, almarhum Briptu Fandi telah melaksanakan tugasnya dan gugur saat bertugas, tentu dengan kebanggan tinggi membela bangsa dan negaranya.

"Saya ikhlas menerima cobaan ini, sudah menjadi tugas polisi tetap berjuang melawan terorisme," ujar Jumiati, yang menghela nafas sambil tersenyum bangga.

Dalam sambutannya, Rektor UGM, Panut Mulyono menyampaikan, penyerahan bantuan sebagai bentuk dukungan moril kepada keluarga Briptu Fandi untuk tetap bersemangat menjalankan aktivitas. Terlebih, Fandi pergi meninggalkan seorang istri dan anak yang masih balita.

Panut menjelaskan, Fandi merupakan alumni UGM yang telah menyelesaikan pendidikan sekolah vokasi di Fakultas Hukum. Selama kuliah, Fandi dikenal aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan.

"Beliau angkatan 2008, selama mahasiswa aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan," kata Panut.

Pemberian santunan sendiri berjalan dengan suasana kekeluargaan. Sulastama dari Kagama menuturkan, penggalangan dana santunan dilakukan sesama alumni UGM di Kagama melalui jejaring media sosial.

Ia menekankan, penyerahan bantuan tersebut sebagai bentuk kepedulian sesama anggota Kagama terhadap Briptu Fandi yang juga merupakan alumnus UGM. Menurut Sulastama, bantuan itu sebenarnya sudah terkumpul sejak lama.

"Kita menunggu momen yang tepat untuk bertemu keluarga guna menyerahkan bantuan ini, itupun setelah menunggu 40 hari setelah wafatnya Briptu Fandi,” ujar Sulastama.

Sulastama menambahkan, alumni UGM menyampaikan rasa simpati yang mendalam setelah mengetahui ada alumni menjadi korban kerusuhan Mako Brimob. Selain itu, ia menegaskan alumni UGM tetap mengutuk keras segala bentuk aksi terorisme di Indonesia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA