Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Menlu AS Gaet Pemimpin Baru Pakistan

Rabu 05 Sep 2018 22:20 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo

Foto: Time
Pemimpin baru Pakistan ingin memperbaiki hubungan dengan AS.

REPUBLIKA.CO.ID, ISLAMABAD -- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo telah mendarat di Islamabad, Pakistan, Rabu (5/9). Kunjungannya ke sana bertujuan menata kembali hubungan bilateral dengan Pakistan yang telah memburuk dalam beberapa bulan terakhir.

Pompeo mengatakan saat ini Pakistan telah memiliki pemimpin baru, yakni Perdana Menteri Imran Khan. Menurutnya, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengatur ulang hubungan kedua negara.

"Ada banyak tantangan antara kedua negara kami, pasti, tapi kami berharap dengan kepemimpinan baru itu kami dapat menemukan titik temu dan kami dapat mulai bekerja pada beberapa masalah bersama kami bersama-sama," kata Pompeo, dikutip laman the Guardian.

Ia mengatakan, saat terpilih sebagai perdana menteri Pakistan, Khan berjanji untuk memiliki hubungan yang lebih baik dengan AS. Pompeo menilai hal itu dapat memberi dorongan baru bagi hubungan bilateral AS dan Pakistan. "Saya harap kita bisa membalik halaman dan mulai membuat kemajuan, tapi ada harapan nyata," ujar Pompeo.

Pompeo pun menyatakan kemungkinan tentang bantuan militer untuk Pakistan. Bantuan tersebut telah dibekukan oleh AS pada Januari lalu. Namun menurut Pompeo, hal itu dapat dipulihkan dalam keadaan yang tepat.

Dalam kunjungan tersebut, Pompeo dijadwalkan akan menggelar pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mehmood Qureshi. Ia pun direncanakan bertemu panglima militer Pakistan Jenderal Qamar Javed Bajwa.

Hubungan AS dengan Pakistan memang memburuk selama beberapa bulan terakhir. Salah satu pemicunya adalah tudingan AS yang menyatakan Pakistan melindungi dan bekerja sama dengan kelompok-kelompok teroris di dekat perbatasan Afghanistan.

Buntutnya, AS memutuskan membatalkan bantuan militer sebesar 300 juta dolar AS untuk Pakistan. Washington menilai, Pakistan tak bertindak tegas dalam menangani kelompok teroris bersenjata di negaranya.

"Karena kurangnya tindakan tegas Pakistan untuk mendukung Strategi Asia Selatan, sisa (dana) 300 juta dolar AS diprogram ulang. Kami terus menekan Pakistan untuk tanpa pandang bulu menargetkan semua kelompok teroris," kata juru bicara Pentagon Letnan Kolonel Kone Faulkner akhir pekan lalu.

Pakistan diketahui telah melakukan kampanye sengit melawan kelompok dan milisi bersenjata di negaranya. Pakistan mengklaim operasi serangan terhadap kelompok-kelompok tersebut telah menyebabkan ribuan orang tewas serta menyedot anggaran hingga miliaran dolar.

Namun para pejabat AS menuding Islamabad mengabaikan, bahkan bekerja sama dengan kelompok-kelompok tersebut. Mereka kerap melancarkan serangan di perbatasan Pakistan-Afghanistan. Gedung Putih meyakini, Badan Intelijen Antar-Lembaga Pakistan dan badan militer lainnya telah lama membantu membiayai dan mempersenjatai Taliban.

Gedung Putih mengklaim pemanfaatan Taliban oleh Pakistan didorong oleh alasan ideologis. Sebab mereka ingin melawan pengaruh India yang semakin meningkat di Afghanistan.




sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA