Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Tanggapi Survei Y Publika, Suhud: Masih Terlalu Dini

Selasa 04 Sep 2018 15:28 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Bayu Hermawan

Suhud Aliyudin

Suhud Aliyudin

Foto: ANTARA FOTO
Suhud yakin elektabilitas PKS akan meningkat dalam lima bulan ke depan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Pencapresan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Suhud Alyuddin menanggapi santai hasil survei dari Lembaga Y Publika, yang menyebut elektabilitas partai itu hanya berada di angka tiga persen. Suhud yakin elektabilitas PKS akan meningkat dalam lima bulan ke depan.

"Surveikan banyak dan beda-beda, kemarin surveinya Kedai Kopi menaruh PKS di 5,2 persen. Kita juga punya survei internal yang sudah diatas parlementary threshold," ujar Suhud kepada Republika.co.id, Selasa (4/9).

Suhud melanjutkan, dengan masuknya PKS dalam gerbong parpol koalisi pengusung pasangan Prabowo-Sandi turut juga berdampak pada electoral partai meski tak sebesar yang dirasakan Gerindra. Seuhud pun optimis PKS bisa memaksimalkan mesin partai untuk meningkatkan elektabilitas partai dalam lima bulan kedepan.

"Margin of error kan harus dihitung juga kan bisa ke atas dan bisa ke bawah. Kalau dia sebut tiga persen kalau margin of errornya ke bawah berarti 1 persen sekian ini kan tidak mungkin, logikanya gak masuk," katanya.

Suhud mengatakan PKS berpegang pada pencapaian di Pemilu serentak sebelumnya dimana elektabilitas PKS bisa mencapai 7 persen. Meski terdapat riak kecil di tubuh PKS dengan terjadinya kisruh Fahri Hamzah dengan Presiden PKS, Sohibul Iman hingga sejumlah kasus korupsi seperti yang baru menjerat Nur Mahmudi Ismail, namun menurut Suhud hal tersebut tak akan berpengaruh menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap PKS.

Suhud mengatakan mesin partai PKS telah terbukti mampu bekerja baik dalam Pilkada di sejunmlah daerah beberapa waktu lalu. Tak hanya itu menurutnya, gerakan #2019GatiPresiden secara tidak langsung juga turut berdampak pada PKS.

"Memang faktor keuntungan kan ada di partai yang mempunyai capres dan cawapres pasti lebih berdampak itu. Tapi masih terlau dini, masih ada lima enam bulan lagi untuk mengubah peta elektabilitas," jelasnya.

Survei Y-Publika dilakukan dari 13-23 Agustus 2018 dengan 1200 responden yang dipilih secara multistage random sampling. Survei tersebut dilakukan dengan wawancara tatap muka dengan responden menggunakan kuisioner dengan margin of eror sebesar 2,98 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA