Monday, 30 Safar 1444 / 26 September 2022

Amman Kota Para Pengungsi

Selasa 04 Sep 2018 16:32 WIB

Red: Agung Sasongko

Satu sudut Kota Amman, Yordania di saat malam.

Satu sudut Kota Amman, Yordania di saat malam.

Foto: http://www.trekearth.com
Kota Amman berubah ketika Sultan Ottoman memutuskan untuk membangun jalur kereta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dari Abdurrahman bin Miswar, dia berkata, "Kami berdiam di Amman selama dua bulan bersama Sa'ad bin Malik. Dia mengqashar shalat, sementara kami shalat itmam (tidak mengqashar). Ketika kami (para tabi'in) menanyakan hal itu, beliau menjawab, "Kami lebih mengetahui." Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang hasan.

Dalam hadis di atas tercantum kata 'Amman'. Menurut Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Hadith al-Nabawi, Amman adalah kota di ujung Syam. "Dulu merupakan pusat kota negeri al-Balqa," ujarnya. Di antara kota-kota yang ada di wilayah itu adalah Adzdarbah, Jarba, dan Elat-semuanya berada di Syam.

Kini, Amman merupakan ibu kota dan kota terbesar Yordania dan merupakan kota politik, budaya, dan pusat komersial serta kota tertua yang masih dihuni oleh peradaban manusia. Populasi wilayah terbesar Amman dihuni lebih dari 2,8 juta penduduk pada 2010.

Sepanjang sejarahnya, Amman telah dihuni oleh beragam jenis masyarakat. Catatan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat pertama yang menghuni kota itu berasal dari masa Neolitikum, yaitu sekitar 1005 SM. Para arkelog menemukan jejak kehidupan masa Neolitikum di Ain Ghazal yang terletak di sebelah timur Amman.

Menurut para arkelog, masyarakat tertua di wilayah itu tidak hanya hidup menetap, tetapi juga telah menghasilkan karya seni. Fakta itu menunjukkan betapa peradaban yang menetap di wilayah Amman tua itu telah mengalami perkembangan yang baik pada masa itu.

Pada abad ke-13 SM, Kota Amman dijuluki Rabbath Ammon oleh bangsa Ammon. Setelah itu, daerah tersebut dikuasai oleh bangsa Assyria dan diikuti oleh bangsa Persia. Setelah itu ditaklukkan lagi oleh bangsa Makedonia. Pemimpin Macedonia di Mesir, Ptolemy II Philadelphus, mengubah nama kota ini menjadi Philadelphia.

Kota ini menjadi bagian dari Kerajaan Nabatea hingga 106 M, ketika Philadelphia berada di bawah kekuasaan Romawi dan bergabung dengan Decapolis. Pada 321 M, Kristen menjadi agama kerajaan tersebut dan Philadelphia menjadi kursi keuskupan selama awal era Bizantium. Philadelphia kembali berganti nama menjadi Amman pada periode Ghassanian dan berkembang di bawah kekhalifahan Bani Ummayyah di Damaskus dan Abbasiyyah di Baghdad.

Beberapa kali gempa bumi dan bencana alam menghancurkan Amman dan menjadikan kota tersebut sebuah desa kecil dan reruntuhan batu hingga pendudukan Circassian pada 1887. Kota tersebut berubah ketika Sultan Ottoman memutuskan untuk membangun jalur kereta Hijaz yang terhubung ke Damaskus dan Madinah. Ia memfasilitasi baik ritual haji dan perdagangan tetap yang menjadikan Amman sebagai stasiun utama pada peta komersial.

Pada 1921 M, Abdullah I memilih Amman sebagai wilayah pemerintahan untuk kota yang baru dibangunnya, Kekaisaran Transjordan. Kemudian, kota ini menjadi ibu kota untuk Kerajaan Hashemite Yordania. Karena di sana tidak terdapat gedung-gedung mewah, ia mulai membangun stasiun dengan kantor di dalam gerbong kereta. Amman menjadi kota kecil hingga 1949.

Pada 1963, populasi bertambah karena masuknya pengungsi Palestina. Amman mengalami perkembangan yang sangat pesat sejak 2010 di bawah pimpinan dua raja Hashemit, Hussein dari Yordania dan Abdullah II.

Pada 1970, Amman menjadi lokasi tempat bentrokan besar antara Organisasi Pembebas Palestina (PLO) dan pasukan Yordania. Segala sesuatu yang berada di sekeliling istana mengalami kerusakan berat. Populasi penduduk mengalami perkembangan yang luar biasa akibat tibanya pengungsi dari berbagai macam negara. Gelombang pertama pengungsa Palestina tiba pada 1948.

Gelombang kedua muncul setelah Perang Enam Hari pada 1967 dan gelombang ketiga pengungsi Palestina, Yordania, dan Asia Tenggara yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga tiba di Amman dari Kuwait, setelah Perang Teluk pada 1991. Gelombang pertama bangsa Irak datang ke Amman setelah Perang Teluk berakhir dengan gelombang kedua muncul pada 2003 setelah invasi Irak.

Selama 10 tahun, jumlah bangunan di seluruh kota bertambah secara dramatis dan distrik-distrik baru dibangun, terutama di Amman bagian barat. Hal ini menyebabkan warga kesulitan air bersih.

Pada November 2005, sebuah ledakan mengguncang tiga hotel di Amman, menyebabkan 60 orang tewas dan melukai 915 lainnya. Alqaidah mengklaim bertanggung jawab atas ledakan tersebut meskipun kenyataannya kota kelahiran pemimpin Alqaidah yang terbunuh, Abu Musab Al Zargawi, adalah Kota Zarga yang terletak di 30 km dari Amman.

Amman merupakan pusat komunikasi, transportasi, pariwisata medis, pendidikan, dan investasi. Pada Perang Irak 2003, seluruh transaksi bisnis dengan Irak dilakukan dengan beberapa cara. Bandara Amman, Bandara Internasional Ratu Alia, merupakan pusat maskapai utama Yordania. Amman juga menjadi pintu masuk turis ke negara tersebut karena hampir seluruh turis yang datang ke Yordania masuk melalui Amman.

Kota itu mengalami perkembangan pesat di berbagai bidang. Hal tersebut dapat dilihat dari sektor konstruksi, real estat, perbankan, finansial, dan bisnis. Banyak gedung pencakar langit tengah dalam proses konstruksi setelah pencabutan larangan pembangunan gedung lebih dari empat lantai.

Kota Amman dihiasi gedung-gedung modern serta bangunan bersejarah. Amman Timur merupakan bagian bersejarah di mana keluarga tunggal tinggal di sisi bukit dan toko-toko kecil serta pasar di wadi atau lembah mendominasi tata letak timur Amman.

Beberapa kota industri sedang dikembangkan di dekat Kota Amman, yang terpenting adalah Mushatta. Amman Barat populasinya lebih renggang dan lebih indah. Bagian ini menjadi pusat ekonomi di Amman. Sebagian hotel bintang lima dan empat berdiri di bagian ini. Distrik terpenting di Amman Barat adalah Shmeisani dan Abdali. Distrik Abdoun menjadi pusat ekonomi Amman. Dan Jabal Amman merupakan salah satu distrik bersejarah.

Amman memiliki populasi ekspatriat yang luar biasa besar. Betapa tidak, begitu banyak imigran yang datang ke negera itu untuk mencari suaka politik. Orang Irak, Palestina, Lebanon, dan Armenia merupakan di antara banyak populasi ekspatriat yang saat ini berada di Amman. Pekerja tamu kebanyakan berasal dari Mesir, Suriah, dan Asia Tenggara. Banyak orang Barat yang berada di Amman sebagai organisasi internasional dengan misi diplomatik yang memiliki kantor regional di Amman.

Amman dikenal sebagai salah satu kota paling liberal di Timur Tengah dan Eurasia. Ia juga dikenal sebagai kota yang paling kebarat-baratan di wilayah tersebut, seperti Kairo dan Damaskus. Kebebasan beragama merupakan tradisi panjang di Yordania. Yordania tidak memiliki hukum yang memaksa para perempuan dan laki-laki untuk berpakaian tertentu. Namun, Islam dan Kristen adalah agama yang paling banyak ditemukan di sana.

Sejak 2000, mal-mal besar berdiri di Amman, termasuk Mall Mekah, Mall Abadoun, Mall Al Baraka, City Mall, Mall Istikal, dan masih banyak lagi. Dua di antaranya yang tengah dibangun adalah Taj Mall dan Abdali Mall. Kota Amman dikenal dengan sejumlah taman air mancur yang dilengkapi permainan bagi anak-anak. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA