Minggu, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 Januari 2020

Minggu, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 Januari 2020

Ini Alasan BI Menaikkan Suku Bunga

Jumat 31 Agu 2018 06:10 WIB

Rep: Satya Festiani/ Red: Friska Yolanda

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur di kantor pusat BI, Jakarta, Rabu (15/8). BI memutuskan menaikkan suku bunga acuan BI 7-days repo rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen guna mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur di kantor pusat BI, Jakarta, Rabu (15/8). BI memutuskan menaikkan suku bunga acuan BI 7-days repo rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen guna mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik.

Foto: Sigid Kurniawan/Antara
Kenaikan suku bunga bukan disebabkan oleh pertumbuhan kredit yang melambat.

REPUBLIKA.CO.ID, BALI -- Bank Indonesia (BI) pada tahun ini telah menaikkan BI Seven-Day Repo Rate sebanyak empat kali. Terakhir, suku bunga acuan tersebut naik 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen pada Agustus 2018.

“BI melakukan tindakan pre-emptive, front loading, dan ahead the curve bukan karena inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang rendah,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers 12th Bulletin of Monetary Economics and Banking di Bali, Kamis (30/8).

Sampai dengan Juli, inflasi tercatat 3,18 persen yoy, relatif stabil dibandingkan inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 3,12 persen yoy. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,27 persen yoy pada triwulan II 2018.

Perry juga menjelaskan kenaikan suku bunga bukan disebabkan oleh pertumbuhan kredit yang melambat. BI mencatat, pertumbuhan kredit pada Juni 2018 tercatat sebesar 10,7 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 10,3 persen yoy. Pertumbuhan kredit juga disertai dengan rasio kecukupan modal (CAR) yang tinggi, yakni sebesar 22 persen.

Perry menjelaskan, kebijakan tersebut harus diambil untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global. “Kita harus merespons dengan suku bunga agar stabilitas terjaga, juga agar daya tarik obligasi pemerintah dan imbal hasil saham tetap menarik,” ujar Perry.

Kenaikan suku bunga tersebut, menurut Perry, juga didukung dengan stabilitasi nilai tukar. BI siap melakukan intervensi ganda, yakni dengan menyuplai pasokan valas di pasar dan membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder. “Policy mix ini lebih baik daripada kita mendasarkan hanya pada suku bunga,” ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA