Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Belajar Dagang Ala Amerika

Rabu 29 Aug 2018 07:37 WIB

Red: Elba Damhuri

Bendera Amerika.

Bendera Cina. Ilustrasi.

Foto:
Amerika pun menggunakan strategi kuno menghadapi perang dagang dengan Cina.

 

WTO memberikan solusi semu dengan memberikan suntikan steroid bernama International Monetary Fund (IMF). Suntikan tersebut ternyata perlahan-lahan mencekik petarung-petarung kecil dengan utang yang mengakar.

Tidak hanya menghajar negara-negara kecil tersebut, petarung-petarung besar juga meremukkan mereka dengan menyedot sumber daya dan melakukan pengarahan kebijakan ekonomi serta politik melalui suntikan dana utang tersebut.

Indonesia hadapi perang dagang

Saat ini, Indonesia berdiri di antara anak-anak kecil lain dengan sarung tangan tinju. Berjubel dengan negara-negara berkembang lainnya dalam menghadapi perdagangan internasional yang dirancang negara-negara petarung besar.

Indonesia terpaksa mengikuti pertarungan berat sebelah yang telah didesain sebelumnya tanpa mampu melawan dengan baik. Neraca perdagangan defisit, nilai tukar rupiah melemah, dan utang negara yang hampir Rp 5.000 triliun adalah hasil pertarungan selama ini.

Berbagai strategi diluncurkan untuk menekan beragam persoalan tersebut, yaitu mengoptimalkan ekspor produk unggulan seperti kelapa sawit, melakukan optimalisasi impor, serta mengembangkan substitusi impor.

Berbagai tindakan memang telah dirumuskan untuk mengatasi masalah tersebut, tetapi yang jelas masalah ini akan kerap menyembul, tenggelam, dan muncul kembali.

Middle Income Trap yang telah didesain secara jitu oleh para petarung besar memang membuat Indonesia sulit bernapas untuk sekadar melancarkan pukulan balasan.

Pada era modern ini, AS mulai keteteran melawan petarung kelas berat lainnya, yaitu Cina. Negara pendiri WTO tersebut mulai kelimpungan akibat strategi ekonomi brilian yang dilakukan Cina. Negeri Tirai Bambu tersebut tidak lagi bertirai bambu.

Cina tidak lagi menutupi rumahnya karena sendi perekonomian mereka telah kuat. Keterbukaan Cina dalam menggempur pasar dunia membuat AS berpikir cukup keras. AS pun kembali melancarkan strategi ratusan tahun lalu tatkala menghadapi revolusi Industri, yaitu doublecover.

Presiden AS Donald Trump meningkatkan proteksi bisnis dalam negeri dengan mengenakan tarif bea masuk impor baja dan aluminium. Hal ini menimbulkan gangguan perdagangan kedua negara superpower itu.

Mengingat Cina adalah pemasok utama kedua produk itu. Strategi AS menimbulkan ketidakstabilan perdagangan. Cina membalas pertahanan AS dengan cara sama, yaitu mengenakan tarif terhadap ratusan produk impor dari AS ke Cina.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA