Saturday, 20 Zulqaidah 1441 / 11 July 2020

Saturday, 20 Zulqaidah 1441 / 11 July 2020

Impor Migas Tinggi, Legislator Dukung Program B20

Kamis 16 Aug 2018 10:15 WIB

Red: Satria K Yudha

Aktivitas bongkar muat ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (20/10).

Aktivitas bongkar muat ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (20/10).

Foto: Republika/ Yasin Habibi
Neraca perdagangan Januari-Juli 2018 defisit 3,09 miliar dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota DPR Komisi XI Hendrawan Supratikno mendorong penguatan kuantitas maupun kualitas produk lokal untuk mencegah impor barang. Hal ini perlu dilakukan untuk menekan defisit neraca perdagangan.

Ia pun mendukung rencana pemerintah untuk mencampurkan sawit ke dalam bahan bakar minyak atau biodiesel sebesar 20 persen (B20) untuk mencegah peningkatan impor migas. "Program peningkatan penggunaan biodiesel bisa dijalankan sesuai rencana," katanya, Rabu (16/8).

Selain itu, politisi PDIP ini meminta adanya pemberian insentif bagi industri pengolahan yang bisa menghasilkan produk dengan konten lokal yang besar.

"Hilirisasi industri juga harus dilakukan secara serius agar produk-produk ekspor mempunyai nilai tambah yang tinggi," kata Hendrawan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2018 mengalami defisit hingga 2,03 miliar dolar AS. Defisit neraca perdagangan tersebut berasal dari impor yang telah mencapai 18,27 miliar dolar AS serta ekspor yang baru mencapai 16,24 miliar dolar AS.

Salah satu pemicu tingginya impor tersebut adalah migas yang menyumbang defisit sebesar 1,19 miliar dolar AS. Impor nonmigas juga memberikan kontribusi terhadap tingginya defisit neraca perdagangan yaitu sebesar 0,84 miliar dolar AS.

Meski demikian, pengamat ekonomi Lana Soelistianingsih melihat impor nonmigas yang dominan disumbangkan oleh bahan baku maupun bahan penolong bermanfaat untuk mendorong investasi.

"Ini menunjukan kegiatan ekonomi atau industri mungkin sudah membaik, karena ada permintaan bahan kimia organik. Kemudian besi dan baja untuk sektor konstruksi," ujarnya.

Menurut dia, peningkatan impor bahan baku maupun bahan penolong ini bisa memberikan kontribusi kepada pertumbuhan investasi maupun ekspor dalam tiga bulan ke depan.

Terkait upaya penurunan impor migas, Lana mengharapkan pemerintah segera merealisasikan kebijakan biodiesel atau membangun kilang agar impor komponen migas tidak lagi membebani neraca perdagangan.

Meski tergerus oleh impor migas, neraca perdagangan tertolong oleh ekspor nonmigas yang tercatat mencapai 14,81 miliar dolar AS atau tumbuh 19,03 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Kinerja ekspor nonmigas merupakan pencapaian yang baik mengingat tekanan global, yang menekan permintaan di berbagai negara mitra dagang, belum sepenuhnya reda.

Dengan tingginya defisit pada periode Juli, secara kumulatif defisit neraca perdagangan pada Januari-Juli 2018 telah tercatat sebesar 3,09 miliar dolar AS.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA