Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Akankah Lahir Poros Ketiga: Poros Umat?

Kamis 09 Agu 2018 00:08 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Presiden Jokowi bertemu Prabowo Subianto.

Prabowo Subianto dan Jokowi.

Foto:
Lahirnya poros ketiga bisa terjadi jika PKS meninggalkan Prabowo

Belum selesai persoalan terkait hasil ijtima ulama, muncul persoalan baru ketika belakangan Partai Demokrat "meminta" bergabung dalam "koalisi oposisi". Saya sebut "meminta" karena bagi PD tak mempunyai pilihan kecuali bergabung dengan kubu Prabowo. Selagi masih ada Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), jangan harap PD bisa bergabung ke kubu PDIP (Jokowi). Persoalan yang dimaksud, SBY disebut-sebut ngotot menyodorkan sang putra mahkota Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres Prabowo.

Meski sudah beredar di media terkait pernyataan SBY yang menyebut AHY cawapres bukan merupakan harga mati, tapi berdasar infomasi-informasi terbatas yang saya dapatkan, SBY disebut mendorong AHY menjadi cawapres Prabowo. "Pemaksaan" kubu SBY ini bisa disebut sebagai politik tanpa fatsun (sopan santun).

Sebagai "pendatang baru" semestinya SBY mengikuti ritme politik yang sudah berlangsung di "kubu oposisi" dan tidak memaksakan untuk menjadi cawapres. Kalau SBY tetap ngotot memaksakan AHY sebagai cawapres dan Prabowo cenderung bersetuju, tentu dengan mengabaikan putusan ijtima ulama, maka rasanya akan muncul "poros ketiga" yang saya lebih suka menyebutnya sebagai "poros umat", tentu dengan meninggalkan atau mengikhlaskan Prabowo membangun koalisi dengan SBY.

Poros umat menurut saya sangat mungkin akan terbangun di antara partai berbasis Islam, yaitu PAN dan PKB plus PKS. Poros ini sangat mungkin terbentuk jika Prabowo memaksakan mengambil AHY sebagai cawapresnya.

Lalu siapa capres yang kemungkinan akan diusung oleh Poros Umat? Hampir pasti Gatot Nurmantyo akan menjadi pertimbangan utama. Rasanya nama Gatot akan bisa diterima baik oleh PAN, PKB maupun PKS. Sementara terkait dengan cawapres, rasanya ketiga partai ini akan lebih bisa memutuskan dengan suasana penuh kegembiraan.

Idealnya tentu Prabowo (Gerindra) tetap bersama dengan PAN dan PKS. Akan bagus lagi kalau PKB bergabung di dalamnya. Kalau PD tetap memaksakan AHY sebagai cawapres, ada baiknya PD dipertimbangkan secara serius untuk ditinggalkan saja. Biarkan PD (SBY) membangun formasi koalisi sendiri.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA