Thursday, 15 Jumadil Akhir 1442 / 28 January 2021

Thursday, 15 Jumadil Akhir 1442 / 28 January 2021

Ini Daftar Kontrak Bisnis Iran yang Batal Akibat Sanksi AS

Rabu 08 Aug 2018 04:07 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolanda

Rial Iran. Teheran menggunakan rial sebagai transaksi langsung antarnegara untuk menyiasati sanksi AS

Rial Iran. Teheran menggunakan rial sebagai transaksi langsung antarnegara untuk menyiasati sanksi AS

Foto: AP
Iran dilarang mengekspor karpet tenun dan badam.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Setelah dijatuhi sanksi ekonomi baru oleh Amerika Serikat (AS) pada Senin (6/8), Iran kehilangan sejumlah transaksi dan kontrak bisnisnya. Dikutip laman Aljazirah, berikut ini kontrak bisnis Iran yang batal akibat sanksi AS:

- Kontrak senilai 20 miliar dolar AS untuk menjual 110 pesawat Boeing ke Iran Air dan Aseman Airlines dibatalkan.

- Kontrak 19 miliar dolar AS untuk menjual 100 pesawat Airbus ke Iran dibatalkan. Hanya 3 pesawat yang dikirim ke Iran Air.

- Kontrak senilai 536 juta dolar AS untuk menjual 20 pesawat ATR ke Iran dibatalkan. Hanya 13 pesawat dikirim pada 5 Agustus.

- Perdagangan emas dan logam mulia lainnya dengan Iran dilarang. Pada masa lalu, emas digunakan sebagai alat pembayaran untuk membeli minyak Iran guna menghindari sanksi perbankan. Tahun fiskal 2017, terdapat 64,5 ton emas yang diterima Iran.

- Ekspor Industri karpet tenun Iran pun dilarang. Industri karpet Iran mengendalikan sekitar 30 persen pasar global. AS merupakan pasar terbesar dari produk karpet tersebut. Terdapat sekitar 2 juta warga Iran yang bekerja di industri karpet. Tahun fiskal 2017, Iran mengekspor 5.400 ton karpet senilai 424 juta dolar AS.

- Ekspor badam tak luput dari target sanksi AS. Iran dan AS merupakan pesaing utama dalam produksi badam dengan 85 persen pasar dunia tahunan. Pada 2016, Cina menjadi pembeli terbesar badam Iran. Pada Maret hingga Desember 2017, Iran berhasil mengekspor 96 ribu ton badam senilai 852 juta dolar AS. 

- Pelarangan impor mobil. Iran adalah pasar mobil terbesar ke-12 pada 2017 (1,6 juta unit) dan memiliki pertumbuhan 18 persen dalam penjualan. Perusahaan Prancis, PSA, produsen mobil Puegeot, mengatakan akan meghentikan operasinya di Iran. PSA mengendalikan sekitar 34 persen pasar otomotif Iran. 

Baca juga, Uni Eropa Lawan Sanksi AS untuk Iran

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA