Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Mahasiswa Asing UGM Pelajari Gua-Gua di Yogyakarta

Selasa 07 Aug 2018 23:10 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yudha Manggala P Putra

Kampus UGM Yogyakarta/Ilustrasi

Kampus UGM Yogyakarta/Ilustrasi

Foto: Republika
Peserta berasal dari negara seperti Perancis, India, Korea Selatan, hingga Malaysia.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Sebanyak 60 mahasiswa asing dari 11 negara mengikuti kursus musim panas di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM). Selama dua pekan, mereka turut mempelajari gua-gua yang ada di DI Yogyakarta.

Kegiatan mengangkat tema Smart City, Village and Region. Mulai 6-15 Agustus 2018, para peserta mempelajari pengetahuan, pemahaman dan ide-ide mengenai konsep pembangunan kota, desa dan wilayah pintar.

Peserta sendiri berasal dari negara-negara seperti Perancis, Romania, India, Korea Selatan, Uganda, Zimbabwe, Kamboja, Thailand, Vietnam, Singapura dan Malaysia.

Koordinator Kursus, Rini Rachmawati mengatakan, kursus musim panas diadakan dalam rangka meningkatkan kualitas atmosfer pembelajaran internasional. Jadi, pembahasan tidak cuma seputar kota pintar.

"Tapi juga menenkankan pentingnya mengembangkan desa pintar dan penguatan kabupaten pintar," kata Rini.

Selain di dalam kelas, peserta berkesempatan melakukan kunjungan ke lapangan seperti ke smart green Kampung Flory dan smart village in disaster area di Lava Tour Merapi di Sleman dan digital SMEs Kampung Borobudur di Magelang.

Kasubdirektorat Kerja Sama Internasional UGM, I Made Andi Arsana menilai, pembangunan kota pintar tidak cuma terjadi di Indonesia, tapi pembahasan dunia. Karenanya, kursus diharap jadi momentum bertukar ide dan pengalaman.

"Diharapkan peserta sama-sama saling belajar dan bertukar ide," ujar Arsana.

Menurut Andi, bisa jadi konsep kota pintar yang ada di Thailand, Kamboja dan Laos berbeda dengan yang ada di Indonesia. Ia berpendapat, konsep itu tidak cuma berhubungan dengan teknologi informasi dan komunikasi.

Tapi, lanjut Andi, dari sisi masyarakat, perspektif budaya dan kearifan lokal. Terlebih, sangat banyak kearifan lokal di Indonesia yang potensial untuk menjadi modal pengembangan konsep kota pintar.

Ana Maria Talos dari University of Bucharest, mengaku senang bisa mengikuti kegiatan kursus musim panas tersebut. Ia berharap, nantinya bisa mempelajari banyak konsep yang sudah ada di Indonesia dan negara-negara lain.

"Ini kesempatan saya untuk membangun hubungan dan relasi dengan mahasiswa luar, selain bisa mempelajari budaya yang tentu berbeda dengan apa yang saya dapatkan selama ini," kata Ana.

Senada, Wasin Meesuay dari Chulalongkom University menuturkan, ketertarikan untuk mengikuti kegiatan ini dalam rangka mempelajari pengetahuan tentang gua. Terlebih, Thailand baru mengalami satu bencana di gua akibat banjir. "Apa yang saya dapatkan di sini, saya akan bagikan ke orang-orang Thailand," ujar Wasin.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA