Selasa, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 Januari 2020

Selasa, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 Januari 2020

Langkah Mendag Batasi Harga Beli Gula Sengsarakan Petani

Senin 30 Jul 2018 11:17 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Petani memanen tebu untuk dikirim ke pabrik gula, di Ngawi, Jawa Timur, Senin (21/5).

Petani memanen tebu untuk dikirim ke pabrik gula, di Ngawi, Jawa Timur, Senin (21/5).

Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto
Anggota komisi VI juga mempertanyakan alasan pemerintah hanya tugaskan Bulog

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Komisi VI DPR meminta Menteri Perdagangan tidak membuat kebijakan yang menyengsarakan petani. Langkah pemerintah membatasi harga beli gula dari petani di bawah Rp 10 ribu per kilogram (kg) telah membuat petani tebu menderita.

"Saya mempertanyakan kenapa pemerintah ketika petani tebu sedang panen, tapi mematok harga beli gula dalam negeri dengan harga rendah. Ini kan tidak tepat. Kasihan nasib petani tebu kita, yang seharusnya untung di musim panen malah merugi," kata anggota Komisi VI DPR Linda Megawati, dalam siaran persnya kepada Republika.co.id, Senin (30/7).

Menurutnya, langkah Mendag membatasi harga pembelian gula petani lokal oleh Bulog sebesar Rp 9.700 per kg saat ini juga sangat merugikan petani. Sebab, biaya yang mesti dikeluarkan petani untuk memproduksi gula saja kabarnya sudah di atas Rp 10 ribu per kg.

Ia juga mempertanyakan langkah pemerintah yang hanya menugaskan Bulog untuk membeli gula dari petani lokal. Padahal, bisa saja ada pihak swasta atau industri yang hendak membeli gula dari petani dengan harga lebih tinggi dari harga pembelian Bulog. Harga pembelian Bulog yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 9.700 per kg.

"Kalau harga beli dari pemerintah Mendag ke petani rendah, kenapa Bulog saja yang ditugasi untuk membeli gula petani lokal? Lebih baik diserahkan saja kepada petani dan industri dalam menentukan harga," kata dia.

Pembebasan petani bernegosiasi mencari pembeli selain Bulog diakui Linda sebagai upaya menghindari kerugian saat musim panen. Ia menambahkan, saat ini nasib petani tebu yang memproduksi gula lokal dalam skala kecil juga semakin sulit karena pemerintah terus memberi izin kepada industri gula besar nasional untuk mengimpor raw sugar dengan harga lebih rendah dari gula lokal.

"Pemerintah seharusnya mengatur gula impor saat musim panen, agar gula petani lokal bisa diserap industri. Sudah gitu jangan yang suruh membeli gula petani lokal cuma Bulog. Jadi yang susah sekarang bukan cuma petani lokal, tapi juga Bulog," ujar politisi dari Partai Demokrat itu.

Linda mengatakan, seharusnya pemerintah membantu petani agar bisa menjual hasil produksi gula dengan harga bagus kepada industri.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA