Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Di Blitar, Asian Games Hangatkan Sejarah Sukarno

Jumat 27 Jul 2018 17:07 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Ketua Inasgoc, Erick Thohir mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani usai kirab obor atau torch relay Asian Games 2018 di depan kantor Wali Kota Blitar, Jawa Timur (Jatim), Jumat (20/7).

Ketua Inasgoc, Erick Thohir mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani usai kirab obor atau torch relay Asian Games 2018 di depan kantor Wali Kota Blitar, Jawa Timur (Jatim), Jumat (20/7).

Foto: Republika/Rr Laeny Sulistyawati
Menko PMK Puan Maharani menerima kirab obor di Blitar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Obor Pesta Olahraga Asiadalam perjalanan ke Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan, Jakarta. Pada Jumat (20/7), dalam prosesi Kirab Obor Asian Games 2018 tiba di Blitar, Jawa Timur, dan dibawa ke Makam Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno oleh atlet tenis meja Olimpiade 1992, Ling Ling Agustin.

Ling Ling menyerahkan api itu kepada Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) yang juga cucu dari Soekarno, Puan Maharani, yang bediri tepat di depan pusaran kakeknya.

"Kita sudah tahu Blitar adalah tempat di mana Presiden pertama Indonesia Soekarno dimakamkan. Tentu ini menjadi tempat bersejarah," kata Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) Erick Thohir, dan menjelaskan mengapa Blitar dipilih menjadi salah satu tempat yang disinggahi api obor Asian Games 2018.

Momen itu tentu seakan menjadi penghangat di tengah dinginnya tren kepedulian generasi muda terhadap sejarah bangsanya sendiri, khususnya sejarah Soekarno sebagai Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia.

Blitar memang identik dengan Presiden Soekarno karena selain dimakamkan di sana, keluarga Sang Proklamator sempat tinggal kota tersebut. Soekarno sendiri lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901. Ketika umurnya enam tahun, pria yang bernama kecil Koesno Sosrodihardjo itu pindah mengikuti orang tuanya ke Mojokerto, Jawa Timur.

Pada tahun 1916, Bung Karno dari Mojokerto merantau ke Surabaya karena harus melanjutkan pendidikan. Di sana, dia berdiam di rumah Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, pemimpin organisasi pergerakan nasional terbesar ketika itu, Sarekat Islam (SI),

Setahun setelah Soekarno berangkat ke Surabaya, ayahnya Soekemi Sosrodihardjo yang berprofesi sebagai seorang guru dipindahkan ke Blitar untuk naik jabatan. Dia lalu membawa serta istri Ida Ayu Nyoman Rai dan keluarganya ke tempatnya yang baru. Di Blitar mereka menghabiskan masa tua.

Sejak itulah Blitar menjadi penting bagi Bung Karno. Kalau perlu restu atau rindu dengan orang tuanya, Soekarno hampir pasti melangkahkan kakinya ke sana. Dalam hangat sapa dan pelukan ayah ibunya, dia menemukan ketenangan dari tekanan-tekanan perjuangan yang selalu dilahapnya setiap hari.

Banyak catatan penting dan prestasi yang ditorehkannya ketika menjabat sebagai orang nomor satu di nusantara. Salah satu yang paling mencolok tentu saja penyelenggaraan Asian Games keempat tahun 1962 di Indonesia.

Tepatnya di Tokyo, Jepang, pada tahun 1958 atau baru 13 tahun merayakan kemerdekaan, Indonesia terpilih menjadi tuan rumah Asian Games keempat pada tahun 1962, mengalahkan calon lain yakni Karachi (Pakistan).

Setelah itu, Indonesia langsung berbenah. Presiden Sukarno membentuk panitia penyelenggara Asian Games bernama Dewan Asian Games Indonesia (DAGI) dan Komando Urusan Pembangunan Asian Games (KUPAG) untuk menyelesaikan pembangunan infrastruktur.

Mereka bekerja berdasarkan keinginan Bung Karno bahwa Indonesia harus memiliki kompleks olahraga terpadu dengan sebuah stadion sepak bola besar yang seterusnya bisa menjadi kebanggaan rakyat.

Maka dari itu, dimulailah proyek pembangunan stadion utama dengan pemancangan tiang pertama oleh Bung Karno pada 8 Februari 1960. Ini sekaligus menandakan dimulainya pembangunan seluruh kompleks Asian Games 1962.

Bung Karno sendiri terlibat dalam urusan teknis maupun non-teknis proyek raksasa tersebut. Dia tidak hentinya memantau perkembangan pembangunan gedung-gedung hingga semuanya selesai tepat waktu.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA