Senin, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Senin, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

PD 1966: Kontroversi, Gol Hantu, dan Gelar Juara Inggris

Jumat 13 Jul 2018 14:01 WIB

Rep: Frederikus Bata/ Red: Israr Itah

Gol kontroversial Geoff Hurst pada final Piala Dunia 1966.

Gol kontroversial Geoff Hurst pada final Piala Dunia 1966.

Foto: AP Photo/File
Skuat the Three Lions hanya pernah menjadi jawara Piala Dunia 1966.

REPUBLIKA.CO.ID, Liga Primer salah satu kompetisi terbaik dunia. Ada kebanggaan masyarakat Inggris di sana. Saat kompetisi bergulir, ratusan juta pasang mata dari berbagai penjuru menyaksikan tiap pekannya. Ini membuat ajang terelite negeri Ratu EliZabeth selalu diperbincangkan. 

Sederet klub besar dengan fan base militan ada di sana. Sebut saja Manchester United, Liverpool, Arsenal, dan Chelsea. Kondisi ini membuat sepakbola Inggris populer, dalam konteks bisnis liganya. 

Menjadi ironi, ketika di level timnas, negara yang katanya pelopor olahraga ini, minim gelar. Skuat the Three Lions hanya pernah menjadi jawara Piala Dunia 1966. Itu pun ajang yang berlangsung di tanah Inggris sarat dengan kontroversi.

Sejak awal, Piala Dunia 1966 ini sudah diwarnai bumbu cerita pemanis. Sebelum turnamen digelar, Piala Jules Rimet dicuri dalam sebuah pameran. Seekor anjing bernama Pickles akhirnya menemukan trofi tersebut terbungkus koran, di semak-semak Kota London.

Piala Dunia 1966 tanpa 16 wakil Afrika. Negara-negara dari benua tersebut protes pada keputusan FIFA. Federasi Sepak Bola Internasional mengharuskan juara Afrika mengikuti play-off melawan wakil Asia atau Oceania. Menurut mereka, status kampiun di wilayah sendiri sudah cukup untuk terbang ke Inggris.

Penggemar Uruguay belum bisa melupakan kekalahan 0-4 timnya dari Jerman Barat pada fase perempat final. Saat itu dua penggawa penting Le Celeste, Horacio Troche dan Hector Silva diusir wasit. Hal serupa terjadi ketika Argentina melawan tuan rumah, di tahapan yang sama.

Kapten La Albiceleste, Antonio Ratttin mendapat kartu merah. Pengadil asal Jerman, Rudolf Kreitlein tak memahami bahasa Rattin (Spanyol) saat keduanya berdebat. Sang pemain dinilai mengintimidasi Kreitlein. Pada akhirnya tim Tango menyerah 0-1. Dalam konteks sepak bola, hingga kini, perseteruan antara Argentina dan Inggris tidak pernah berakhir. 

Kontroversi turnamen ini memuncak saat final berlangsung. Sampai waktu normal berakhir, laga antara Jerman kontra the Three Lions imbang 2-2. Pada menit ke-98, tuan rumah mendapat gol melalui aksi Geoff Hurst. Kedudukan menjadi 3-2 untuk tim asuhan Alf Ramsey. 

Para penggawa Der Panzer protes keras, lantaran mereka menilai bola sepakan Hurst belum melewati garis gawang. Namun Gottfried Dienst tak menggubris. Ia lebih memercayai asistennya Tofiq Bahramov yang mengangkat bendera tanda bola melewati garis gawang. Pada sisa waktu fokus Die Manschaft menurun. Inggris menambah satu gol melalui Hurst. 

Gol ini menjadi kontroversi yang terus dibahas. Penelitian Universitas Oxford menyimpulkan gol ketiga--yang masyhur dengan sebutan gol hantu--tak pernah ada. Sementara versi terbaru dari Sky Sports, yang menggunakan teknologi realitas virtual dari EA Sports, meyakini bola telah melewati garis gawang.

Setelah berjaya di tanah sendiri, tim Tiga Singa tak pernah lagi menggenggam trofi internasional. Selepas 1966, prestasi terbaik Inggris menjadi semifinalis Piala Eropa 1968, dan Piala Dunia 1990. Kini langkah Harry Kane di Rusia terhenti pada babak empat besar. Masih ada target mengejar medali perunggu Piala Dunia 2018 di negeri Beruang Merah.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 

Jadwal Pertandingan

Selengkapnya
 
Terpopuler
 
Terkomentari