Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Magic Water Harvester, Mesin Penghasil Air Bersih dari Udara

Ahad 08 Jul 2018 23:02 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Ani Nursalikah

Air bersih (ilustrasi)

Air bersih (ilustrasi)

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Mesin ini dikembangkan sebagai solusi mengatasi kelangkaan air di daerah Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menciptakan mesin penghasil air bersih dari udara. Magic Water Harvester sukses dikembangkan untuk menjadi salah satu alternatif kekeringan.

"Magic Water Harvester ini dikembangkan untuk menjadi alternatif solusi dalam mengatasi persoalan kelangkaan air di beberapa daerah Indonesia," kata salah satu pengembang, Amalia Adinugraha Arisakti, beberapa waktu lalu.

Bersama rekan-rekannya Arjuna Maulana Rifqi dan Dimas Sandy D R, mereka tergerak mengembangkan karena melihat besarnya potensi mendapatkan air bersih dari udara. Terlebih, Indonesia ada di kelembaban udara rata-rata sampai 80 persen.

Hal ini menunjukkan udara di Indonesia memiliki kandungan air dalam udara yang banyak. Kebutuhan air bersih semakin meningkat, dan rata-rata penggunaan air masyarakat berkisar 169,11-247,36 liter per orang per hari.

Bahkan, lanjut Amalia, diprediksi pada 2025  Indonesia akan mengalami kelangkaan air bersih. Hal itu dikarenakan ketersediaan air tanah yang memang tidak sebanding dengan penggunaan manusia.

"Diharapkan bisa sebagai solusi mendapatkan air bersih," ujar Amalia.

Mesin ini dapat menghasilkan air yang berasal dari udara bebas, bukan air tanah. Amalia menerangkan, Magic Water Harvester dibuat dengan empat komponen utama yaitu peltier, heat sink, fan dan power supply.

Mereka bekerja menggunakan prinsip titik embun. Untuk mengubah udara menjadi air, dilakukan kontak udara lingkungan dengan plat (heat sink) bersuhu di bawah titik embunnya.

Melalui proses itu, terjadi pengembunan dan embun-embun yang ada menggumpal menjadi tetes-tetesan air. Sayang, air bersih yang dihasilkan belum bisa didapatkan dalam jumlah besar.

"Alat sudah kami ujikan di Lab FTP dan bisa menghasilkan sebesar 70 mililiter air bersih," kata Amalia.

Kendala menghasilkan air dalam jumlah itu sendiri lantaran memang masih berupa prototipe kecil. Artinya, masih perlu dikembangkan lebih lanjut di masa-masa mendatang, terutama di Indonesia.

Ke depan, ketiganya akan terus mengembangkan alat ini dengan memaksimalkan sistem pendingin dan memanfaatkan energi terbarukan sebagai sumber energi. Selain itu, akan  diperbesar luasan permukaan dingin untuk mencapai hasil maksimal.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA