Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Kerusakan Hutan di Daerah Aliran Sungai Solo Semakin Parah

Kamis 05 Jul 2018 17:01 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Nur Aini

Ilustrasi nelayan menjala ikan di Sungai Bengawan Solo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Ilustrasi nelayan menjala ikan di Sungai Bengawan Solo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Foto: Antara/Aguk Sudarmojo
Kerusakan DAS Solo semakin parah dalam delapan tahun terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Kondisi kawasan hutan yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Solo semakin parah dalam delapan tahun terakhir. Padahal, kawasan tersebut mempunyai banyak potensi.

Kawasan itu memiliki luas areal lebih dari 1,5 juta hektare dengan panjang sungai Bengawan Solo 700 kilometer. Kawasan mencakup areal dari hulu di Gunung Merapi, Gunung Wilis, Gunung Lawu, dan perbukitan karst Wonogiri-Pacitan sampai di hilir Kabupaten Gresik sebagai muaranya.

Sebab itu, ekosistem yang terbentang di 1,5 juta hektare itu pun menjadi tumpuan puluhan juta penduduk yang tinggal di wilayah DAS Solo. DAS Solo memiliki ekosistem gunung api, pegunungan, karts, lahan basah hingga waduk. Selain itu juga terdapat sekitar 376 ribu hektare kawasan hutan, 1,1 juta hektare kawasan nonhutan dan Badan air seluar 9.000 hektare. 

Meski begitu, Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung Solo mencatat kerusakan DAS Solo semakin parah dalam delapan tahun terakhir. Menurut Kepala BPDAS dan Hutan Lindung Solo, Suratman mengatakan kerusakan biogeofisik seperti kerusakan hutan dan perubahan pegunungan lahan yang relatif cepat dari pegunungan pertanian menjadi nonpertanian, meningkatnya lahan kritis, erosi, pencemaran lingkungan, penurunan produktivitas lahan pertanian dan perkebunan hingga penambangan bahan galian merupakan faktor biofisik penyebab kerusakan DAS Solo.

“Kerusakan DAS Solo juga semakin besar dengan meningkatnya pemanfaatan sumber daya alam sebagai akibat dari pertambahan penduduk, konflik kepentingan hingga terbatasnya dana untuk penanganan,” kata Suratman dalam seminar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Terpadu Menuju Kelestarian Fungsi Lingkungan Dan Kesejahteraan Masyarakat di Solo pada Kamis (5/7).

Hal yang paling memprihatinkan, kata Suratman, terjadinya perubahan penggunaan lahan terutama dari wilayah hutan menjadi pemukiman. “Kita ini yang banyak berubah menjadi pemukiman, yang dulunya sawah karena letaknya strategis berubah menjadi perumahan,” katanya.

BPDAS dan Hutan Lindung Solo mencatat sepanjang periode 2010 sampai 2015, hutan lahan kering sekunder, hutan tanaman hingga sawah terus berkurang. Sementara luas pemukiman terus bertambah. Pada 2010, hutan lahan kering di DAS Solo memiliki luas sekitar 12.990,42 Ha dan mengalami perubahan sehingga pada 2015 menjadi 12.970 Ha.

Pada periode yang sama kawasan Hutan Taman yang berkurang dari 460.475 Ha menjadi 459.305 Ha, Pertanian lahan kering dari 202.744 Ha menjadi 202.172 Ha, Sawah dari 715.107,18 menjadi 713.158,90 Ha.

Di lain sisi, kawasan permukiman bertambah dari 201.200,62 Ha pada 2010 menjadi 203.850,64 Ha pada 2015.  BPDAS Solo juga mencatat terjadinya tren lahan kritis daei 2009 hingga 2018. Saat ini, kata Suratman, ada sekitar 3402 Ha luas lahan sangat kritis di mana 2.896 merupakan hutan lindung.

“Munculnya industri itu bukan di luar jawa, pabrik-pabrik kayu itu larinya ke jawa semua. Sekitar 900an yang berizin di Jawa. Makannya tidak hilang hilang lahan kritisnya, ketika sudah tidak kritis pohonnya besar ditebang kritis lagi,” katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA