Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Lebaran, Jengkol dan Petai Dongkrak Inflasi di Padang

Selasa 03 Jul 2018 03:04 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Nur Aini

Jengkol (ilustrasi)

Jengkol (ilustrasi)

Foto: kulinerindo
Selain jengkol dan petai, kenaikan harga terjadi pada dendeng.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Laju inflasi di Sumatra Barat, terangkum dari dua kota yang disurvei yakni Padang dan Bukittinggi, masih tercatat rendah pada periode Ramadhan dan Lebaran 2018. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, tingkat inflasi Kota Padang pada Juni 2018 sebesar 0,39 persen dan Kota Bukittinggi 0,2 persen. Secara tahun kalender, sepanjang semester I 2018 laju inflasi di Padang sebesar 1,52 persen dan Bukittinggi 0,74 persen.

Uniknya, penyumbang terbesar angka inflasi di Kota Padang selama periode Puasa-Lebaran bukan harga tiket pesawat yang melonjak, melainkan komoditas jengkol dan petai. Padahal sejak awal 2018, Pemprov Sumbar sudah mewanti-wanti bahwa harga tiket pesawat selama arus mudik dan balik berpotensi menyumbang laju inflasi terbesar.

BPS mencatat, komoditas jengkol mengalami inflasi 12,92 persen dan petani sebesar 27,5 persen. Sementara tarif angkutan udara hanya mengalami inflasi 5,96 persen. Komoditas lain yang juga mengalami kenaikan harga adalah dendeng dengan tingkat inflasi 29,93 persen.

"Yang jelas kita telah melalui periode paling berisiko terhadap lonjakan inflasi. Yang perlu diwaspadai selanjutnya adalah inflasi menyambut Idul Adha, tahun baru," kata Kepala Perwakilan BPS Sumbar Sukardi, Senin (2/7).

Sukardi menjelaskan, jengkol dan petai memang menjadi bahan masakan favorit bagi masyarakat Minang dalam menyajikan hidangan Lebaran. Ia mengatakan, lonjakan konsumsi jengkol dan petai baru terjadi saat Lebaran. Sementara untuk tiket pesawat, kenaikan tertinggi hanya pada maskapai Garuda Indonesia. Sedangkan maskapai-maskapai lain, kata dia, tercatat naik tetapi masih wajar.

BPS optimistis laju inflasi di Sumbar bisa bertahan rendah hingga akhir 2018. Menurutnya, periode paling rawan dalam menjaga inflasi adalah Puasa dan Lebaran. Sementara Idul Adha dan Tahun Baru, meski permintaan tetap naik, ia yakin inflasi akan terjaga.  "Kalau Sumbar di bawah tiga (persen) kelihatannya. Karena event yang mengkhawatirkan tinggal Idul Adha, Natal, dan tahun Baru," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA