Tuesday, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 December 2019

Tuesday, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 December 2019

Dua Napi Teroris tak Mau Ikut Pencoblosan, Ini Alasannya

Kamis 28 Jun 2018 05:13 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Petugas melakukan penghitungan suara Pilkada serentak 2018 di TPS 19, Sempur, Bogor, Jawa Barat, Rabu (27/6).

Petugas melakukan penghitungan suara Pilkada serentak 2018 di TPS 19, Sempur, Bogor, Jawa Barat, Rabu (27/6).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Dua napi teroris itu juga dikenal tak kooperatif.

REPUBLIKA.CO.ID, MAGELANG -- Sebanyak dua narapidana kasus teroris di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kota Magelang, Jawa Tengah, tidak mau mencoblos pada pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Tengah (Jateng) 2018.

Ketua KPPS Khusus Lapas Magelang Yudi Winardi di Magelang, Rabu (27/6), mengatakan, sejak awal mereka tidak mau berpartisipasi pada pilkada serentak 2018 karena ideologi mereka yang tidak mengakui Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Sejak awal sudah tidak mau, sudah diberi sosialisasi dan sebagainya. Mereka tidak mengakui NKRI. Selama di sini mereka tidak kooperatif, tidak mau ikut apel, upacara, dan sebagainya," katanya.

Ia menyebutkan dua narapidana kasus teroris tersebut adalah GK, terpidana kasus pengeboman di Surakarta tahun 2016, dan TS, pelaku upaya penyerangan roket ke Singapura pada 2016. Masing-masing diganjar hukuman penjara 4 tahun 6 bulan dan 3 tahun.

Dia mengatakan, TPS 15 merupakan TPS khusus yang difasilitasi KPU Kota Magelang untuk memberi kesempatan napi asal Jateng menyalurkan hak pilihnya pada pilkada 2018. TPS ini masuk wilayah Kelurahan Cacaban, Kecamatan Magelang Tengah.

Ia menuturkan, jumlah DPT di TPS ini sebanyak 508 orang, terdiri atas DPT C6 sebanyak 378 orang, DPT tambahan 90 orang, dan pemilih yang menggunakan surat keterangan 42 orang.

Menurut dia, antusiasme para narapidana untuk mencoblos cukup tinggi. Mereka berbondong-bondong datang ke TPS sejak pagi. "Partisipasi pemilih di lapas biasanya mencapai 90 persen lebih. Kali ini kelihatannya sama," katanya.

Seorang narapidana kasus narkoba, Seno Wicaksono (22), mengaku senang bisa menyalurkan hak politiknya sebagai warga negara Indonesia, meskipun sedang menjalani hukuman di lapas. Ia berharap pemimpin yang terpilih membawa perubahan bagi Jawa Tengah menjadi lebih baik.

Baca juga,  Meski Ganjar Menang, Hitung Cepat Meleset dari Survei.

Sementara itu, hasil hitung cepat pemilihan gubernur (pilgub) Jawa Tengah 2018 oleh sejumlah lembaga survei menempatkan Ganjar Pranowo-Taj Yasin unggul atas pesaingnya, Sudirman Said-Ida Fauziyah.

Berdasarkan hasil hitung cepat (quick count) lembaga survei seperti Saiful Mujani Research Consulting (SMRC), pasangan Ganjar-Yasin mengantongi suara sementara 59,04 persen. Sudirman Said-Ida Fauziyah mengantongi 40,96 persen.

Kendati begitu, keunggulan pasangan calon yang diusung PDIP, PPP, Partai Demokrat, dan Partai Nasdem ini "meleset" dari survei sebelum pemungutan suara. Dalam survei, elektabilitas Ganjar mencapai 70 persen.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA