Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Virus Polio, Cara Revolusioner Lawan Kanker Otak

Rabu 27 Jun 2018 18:42 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Virus of Polio (illustration)

Virus of Polio (illustration)

Foto: natural.tv
Peneliti menemukan virus polio yang direkayasa bisa membunuh sel-sel kanker

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para ilmuwan sudah sejak lama mencari cara melawan penyakit mematikan semacam kanker. Namun kali ini ada treatment alias cara yang baru ditemukan para peneliti. Hasilnya cukup mengejutkan, di mana para ilmuwan menemukan virus polio yang telah direkayasa sebenarnya mampu memerangi kanker otak.

Dilansir Bgr.com, Rabu (27/6), secara genetika, virus polio yang direkayasa ulang mampu memerangi kanker otak yang mematikan. Cara perawatan baru ini pun menjadi terbilang revolusioner karena menunjukkan hasil positif. Pengujian pengobatan baru ini dideskripsikan dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di The New England Journal of Medicine.

Kanker otak sejatinya sangat mengerikan karena penyakit ini cenderung tidak mempan oleh berbagai bentuk pengobatan kanker. Mereka yang didiagnosis menderita glioblastoma kanker otak sering divonis sudah tidak punya harapan hidup lebih lama.

Namun rupanya, virus polio telah menunjukkan hasil positif untuk memperpanjang usia penderita kanker otak. Setidaknya memperpanjang usia inilah yang dianggap menjadi kemajuan signifikan dalam penelitian penyakit mematikan seperti kanker otak.

Para peneliti menemukan virus polio dapat menyerang sel-sel dalam sistem saraf.  Para dokter pun memodifikasi virus untuk kemudian dimasukkan ke tumor otak. Virus akan menginfeksi dan membunuh sel-sel kanker, sehingga para peneliti pun percaya proses ini kemungkinan mendukung sistem kekebalan pasien dalam melawan kanker. 

Perawatan ini bukan penyembuhan dan hanya efektif pada kurang lebih seperlima dari pasien glioblastoma yang telah diobati dengan cara demikian. “Kami harus berhati-hati. Tapi kami memerhatikan jangka panjang. Kami melihat sesuatu yang biasanya tidak terlihat dari pasien dengan glioblastoma,” kata Annick Desjardins, seorang ahli saraf onkologi yang terlibat dalam penelitian ini. 

Dalam studi jangka panjang, 21 persen pasien yang diobati dengan virus yang dimodifikasi telah selamat setelah tiga tahun. Tiga pasien telah bertahan hidup lebih dari lima tahun, satu di antaranya bahkan sudah melewati enam tahun. Sebelumnya bahkan diketahui belum pernah ada pasien glioblastoma yang bertahan dalam catatan waktu tersebut. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA