Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Ibu Muda Ini Alergi Air Setelah Melahirkan

Kamis 07 Jun 2018 05:25 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Yudha Manggala P Putra

Ibu muda yang mengalami gejala alergi air.

Ibu muda yang mengalami gejala alergi air.

Foto: Dailymail.co.uk
Aquagenic Uticaria, alergi langka yang hanya ada 35 kasus di seluruh dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, CARDIFF -- Ibu muda bernama Cherelle Farrugia mengidap kondisi langka setelah melahirkan putrinya, Willow, Januari silam. Dua bulan usai bersalin, perempuan 25 tahun asal Cardiff, Wales, Britania Raya, itu alergi jika terkena air.

"Awalnya saya mengira alergi terjadi akibat produk mandi yang saya gunakan tapi saya menyadari kulit saya terus bereaksi setelah saya menghentikan penggunaannya," kata Farrugia yang kulitnya gatal dan nyeri setiap kali mandi.

Dugaan lain adalah temperatur air, tetapi reaksi sama tetap terjadi meski dia mandi menggunakan air panas, hangat, normal, maupun dingin. Alerginya pun bertahan meski mandi memakai air kolam renang, air kemasan, maupun air yang sudah disaring.

Kondisi yang dia alami disebut Aquagenic Uticaria, yaitu gatal parah jika terkena air dan hanya ada 35 kasus di seluruh dunia. Diagnosis resmi didapatkan Farrugia tiga bulan setelah konsultasi dokter karena langkanya penyakit tersebut.

Pemicunya diduga karena Farrugia sempat mengalami depresi pascamelahirkan sehingga tubuhnya terdampak perubahan kadar hormon yang cukup signifikan. Untungnya, tidak ada reaksi alergi saat dia meminum air.

Sayangnya, tidak ada obat untuk benar-benar menghilangkan kondisi langka itu. Sekitar 20 menit sebelum mandi, Farrugia harus meminum obat khusus dan mengolesi kulitnya dengan krim pengobatan untuk mengurangi reaksi alergi.

Dia sedih karena kondisi itu menghalangi interaksinya dengan sang putri, seperti tidak bisa berenang atau mandi bersama. Namun, Farrugia berharap kondisinya bisa meningkatkan kesadaran para ibu untuk selalu menjaga kesehatan diri.

"Saat ini saya menjalani terapi perilaku kognitif yang cukup membantu. Begitu Anda menerima bahwa Anda memiliki kondisi ini, ada kekuatan untuk belajar bagaimana mengatasinya," kata Farrugia, dikutip dari laman Daily Mail.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA