Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Italia akan Deportasi Imigran yang Datang ke Sisilia

Senin 04 Jun 2018 06:06 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ratna Puspita

Wakil Perdana Menteri Italia dan Menteri Dalam Negeri Italia Matteo Salvin.

Wakil Perdana Menteri Italia dan Menteri Dalam Negeri Italia Matteo Salvin.

Foto: EPA-EFE/ANDREA SCARFO
Imigran yang baru datang harus bersiap kembali mengemas barang-barangnya.

REPUBLIKA.CO.ID, PALERMO -- Menteri Dalam Negeri Italia Matteo Salvini mengatakan Pulau Sisilia harus berhenti menjadi kamp pengungsi Eropa. Ia menegaskan rencana pemerintah tersebut bukan kebijakan garis keras, tetapi berdasarkan akal sehat. 

Pemimpin partai sayap kanan League mengatakan, peningkatan deportasi dan pembatasan kedatangan baru akan menyelamatkan banyak nyawa. 

“Cukup sudah Sisilia menjadi kamp pengungsi Eropa. Saya tidak akan diam saja dan tidak melakukan apa-apa setelah adanya pendaratan demi pendaratan. Kami membutuhkan pusat deportasi,” kata dia di Pelabuhan Sisilia, Italia, dikutip dari BBC, Senin (4/6).

Dia menegaskan akan bekerja keras untuk mencegah orang yang putus asa dan bermimpi ada kehidupan baru di Catania, Sisilia, Italia. “Tidak ada rumah dan pekerjaan yang cukup bagi warga Italia, apalagi setengah Benua Afrika,” kata Salvini.

Salvini juga mengunjungi pelabuhan Pozzallo, di mana sebuah kapal yang membawa lebih dari 150 migran dari sub-Sahara Afrika, berlabuh beberapa hari lalu setelah diselamatkan oleh kelompok kemanusiaan. Setelah berlabuh, dia sempat menyatakan, imigran yang baru datang harus bersiap kembali mengemas barang-barangnya.

Pemerintahan baru Italia yang mengkampanyekan antiimigran mendatangkan banyak kritik. Sebab, Italia merupakan destinasi utama migran yang menyeberang dari Afrika Utara ke Eropa, meskipun jumlahnya terus merosot beberapa bulan terakhir. 

Kritikus pemerintah Italia mengatakan, rencana seperti memulangkan imigran tidak bisa dijalankan. Sebab keputusan itu berisiko menimbulkan rasisme dan mempolitisir masalah kemanusiaan. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA