Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

 

Isi Baterai Spiritual di Bulan Suci

Rabu 30 May 2018 16:00 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Agung Sasongko

Ramadhan

Ramadhan

Foto: Republika/ Tahta Aidilla
Maknai Ramadhan sebagai momentum untuk memperdalam ilmu agama.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rasulullah SAW memberikan contoh kepada umatnya untuk selalu menuntut ilmu sebab menuntut ilmu adalah kewajiban. Tak terkecuali pada bulan Ramadhan yang menurut dia setiap kebaikan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Amirsyah Tambunan, memaknai Ramadhan sebagai momentum untuk memperdalam ilmu agama. Ia menganjurkan setiap Muslim untuk memanfaatkan peluang menuntut ilmu.

"Populernya Ramdhan bulan untuk menempatkan karakter dengan akhlak agama karena Ramadhan penuh dengan suasana keilmuan setiap kali dilakukan tausiyah, tujuannya memperkuat ilmu pengetahuan," ujarnya ketika dihubungi Republika.co.id, di Jakarta, Rabu (30/5).

Menurut dia, ada dua sarana untuk menuntut ilmu saat bulan Ramadhan. Pertama, memperbanyak bacaan tentang ilmu-ilmu agama, baik ilmu hadis, tafsir, sirah, fikih, maupun wawasan keislaman lainnya.

"Ini bisa diperoleh lewat kultum, baik di media cetak atau elektronik dan masjid yang setiap malam tidak pernah absen para muballigh menyampaikan tausiyah," ucapnya.

Kedua, mendatangi majelis-majelis ilmu yang banyak bertebaran saat bulan Ramadhan.

"Umat Islam sebenarnya telah sangat dimudahkan pada bulan Ramadhan. Tak perlu mengumpulkan buku-buku atau referensi untuk mempelajari suatu ilmu agama," ungkapnya.

Kendati demikian, ada beberapa kendala untuk menjalankan Ramadhan sebagai bulan ilmu. Setidaknya dibutuhkan penataan kompetesi muballigh agar memiliki muatan akademis yang mumpuni.

"Jadi, disesuaikan dengan keahlian yang dimiliki oleh guru yang terjadwal. Kadang kala kelemahannya adalah belum punya materi yang terarah dan terprogram sesuai dengan kurikulumm silabus. Ini ada sebagian masjid sudah tapi secara umum belum ada perencanaan kurikulum," katanya.

Kemudian, ia meminta para ormas Islam Muhammadiyah, NU, dan Persis yang mempunyai masjid dan mushala berkoordinasi muballigh yang sudah memiliki kemampuan sehingga terjadwal dengan baik.

"Semua pihak termasuk masyarakat memberikan dukungan penuh terhadap program tersebut sehingga bisa maksimal. Jadi, tidak boleh dibiarkan jalan sendiri," ucapnya.

photo
Infografis Keutamaan Ilmu

Baterai Spiritual

Cendikiawan Muslim KH Didin Hafiduddin mengatakan, ada beberapa yang perlu dilakukan masyarakat agar tetap menjaga keistiqamahannya. Salah satunya, bersikap selalu mensyukuri apa yang diberikan Allah SWT di dalam kehidupan sehari-hari.

"Saat Idul Fitri harus disikapi jangan berlebih-lebihan. Bentuk syukurnya tidak mesti secara mewah. Akibat dari sikap yang berlebihan orang sering mengabaikan ibadah di akhir Ramadhan yang sangat utama seperti Itikaf 10 hari terakhir,"ujarnya ketika dihubungi Republika.co.id, di Jakarta, Rabu (30/5).

Selanjutnya, lanjut dia, istiqamah dalam ibadah diperlukan beberapa hal. Pertama, memperbarui niat secara terus-menerus untuk memanfaatkan peluang Ramadhan secara optimal.

Kedua, membangun lingkungan yang kondusif untuk ibadah bersama-sama, misalnya keluarga. Ketiga, menargetkan apa yang ingin dicapai, misalnya menghatamkan Alquran.

Sementara itu, secara istilah, seperti yang didefinisikan para ulama, istiqamah adalah kita tetap pada ketaatan dan keikhlasan dalam ibadah kepada Allah SWT sehingga dalam kehidupan sehari-hari kita menjaga hati agar tidak bermaksiat kepada Allah SWT.

"Jadi, istilahnya istiqamah itu hati. Kita tidak belok ke kanan dan ke kiri seperti yang disebutkan dalam Alquran," katanya.

Selanjutnya, memperbanyak istighfar, berkumpul dengan orang saleh, dan memperbanyak belajar dari kaum Muslimin. "Mendengarkan ceramah setelah shalat Subuh, Isya, atau Tarawih," ungkapnya

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES