Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Menjadi Jempol yang Lebih Baik

Jumat 25 May 2018 17:20 WIB

Red: Indira Rezkisari

Pengguna gadget/ilustrasi

Pengguna gadget/ilustrasi

Foto: Republika/Tahta Aidilla
Prinsipnya hidup di dunia maya harus sama adabnya seperti kehidupan nyata.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Indira Rezkisari*

JAKARTA -- Video yang memuat seorang remaja tanggung memegang foto Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi viral. Tak heran, isi videonya adalah remaja yang melontarkan kata tak pantas. Mengancam, memaki, bahkan menyebut akan menghabisi nyawa Presiden Indonesia tersebut.

Video yang mungkin mulanya hanya dibuat untuk konsumsi diri sendiri atau teman-temannya itu ternyata jadi viral. Entah siapa yang menyebarkannya. Pelaku dalam video sejak Rabu (23/5) malam sudah dijemput kepolisian.

Ternyata, sang remaja mengaku tidak pernah memiliki niatan membuat video tersebut menjadi viral. Video itu agaknya sebatas dibuat sebagai ajang jagoan antara remaja pria tersebut dan teman-temannya mungkin. Jagoan, iya saya sebut jagoan, karena di video itu dia menantang polisi untuk mencari dan menemukannya karena sudah menghina Kepala Negara.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), langsung diminta kepolisian terlibat dalam kasus ini. Menurut Ketua KPAI, Susanto, sang remaja sudah meminta maaf. Usianya juga masih di bawah umur yakni 16 tahun.

Ditambah, sang remaja sudah membuat video permintaan maaf dengan didampingi orangtuanya. KPAI menganggap, permintaan maaf lewat video seharusnya sudah cukup. Apalagi KPAI menilai Presiden pasti akan memaafkan perilaku remaja tersebut karena niat awalnya hanya bercanda.

Saya langsung miris begitu pertama tahu kalau aksi dalam video ternyata sebatas ajang menjadi jagoan. Uji nyali, mungkin. Ia semacam meyakini kalau mengatakan sesuatu yang begitu serius, yaitu mengancam dan membunuh Presiden, tidak akan membuatnya bermasalah.

Ini dia yang menjadi masalah sesungguhnya di era digital. Seberapa sering jika kita melihat akun media sosial selebritas, figur publik, tokoh publik, hingga kepala negara, yang di bawah unggahan foto atau statusnya kemudian dikomentari tak pantas oleh warganet. Seakan hidup orang tersebut adalah hak bagi orang lain untuk komentari.

Komentarnya juga sebagian cukup jahat, menurut saya. "Ih, kok di situ mukanya bulat, ya." Atau bisa juga komentar, "Kenapa sih pilihnya jalan sama dia, saya lebih suka kamu sama si X dari Y, deh."

Interaksi manusia masa kini dengan akun media sosialnya memang sangat intens. Beragam studi sudah mencatat adanya gangguan perilaku karena gawai dan internet. Mulai dari kecanduan gawai, hingga ketidakmampuan membedakan realitas dunia maya hingga dunia nyata.

Ada penyebab seseorang merasa gawai dan media sosial bak kehidupan dalam dunia lain yang hangat baginya. Teorinya hampir mirip dengan alasan penumpang pesawat mudah menangis saat menonton film ketika terbang. Posisi duduknya yang membuat wajah dekat dengan layar menciptakan rasa keintiman. Kemudian kesendirian saat sedang berinteraksi dengan gawai dengan cepat meningkatkan emosi.

Mungkin itu yang menyebabkan kita, pengguna gawai dan media sosial, dengan santainya mengomentari orang-orang yang tidak dikenal sama sekali saat di dunia maya. Ada faktor kedekatan yang membuat kita merasa sah-sah saja berkomentar. Meski komentar itu mungkin menjengkelkan bagi orang yang dikomentari, kenal juga tidak, eh berani-beraninya bilang wajahnya bulat. Atau menyampaikan pendapat lebih baik memadu hati dengan si X ketimbang Y. Siapa kamu, kenal juga tidak.

Padahal dunia maya di Facebook, Instagram, Twitter, blog, vlog, YouTube, juga saluran-saluran lainnya tak selalu jujur. Banyak lho, akun Facebook yang profil wajahnya dicuri dari akun orang lain. Atau feed Instagram yang isinya sebatas pencitraan, demi kelihatan lebih menarik dari manusia lainnya.

Yang itu tidak perlu saya bahas. Sudah terlalu banyak contohnya.

Yang ingin saya katakan di sini, berinteraksi di dunia maya seharusnya disamakan dengan interaksi di dunia nyata. Bila kita pergi ke pasar dan melihat wanita yang wajahnya tampak bulat jika menggunakan model kerudung tertentu, apakah kita akan bilang ke dia? Tiba-tiba menghampiri, lalu bilang, "mbak, mukanya bulat banget deh dengan kerudung itu."

Bagus kalau yang ditegur tidak marah, ya. Besar kemungkinan dia akan tersinggung karena yang menegur tidak dikenalnya sama sekali.

Prinsip itu yang harusnya diresapi saat berinteraksi di media sosial. Ya, beberapa pemilik akun media sosial memang menjadikan isi kontennya sebagai dagangan. Entah artis berjualan kepopuleran untuk mendapatkan lebih banyak pekerjaan. Atau politikus yang juga berupaya mempromosikan dirinya jelang 2019.

Jangan lupa, masih banyak orang biasa yang menginspirasi karena kepandaiannya menghafal Alquran, kepandaiannya memasak, atau ibu-ibu yang punya passion besar dalam urusan tumbuh kembang anak, semuanya layak lho diperlakukan secara sopan di dunia maya. Alasannya kalau menurut saya, sederhana saja, karena manusia memang harus bersikap sopan dan santun ke orang lain.

Kritik perlu disampaikan dengan kata-kata membangun. Kekesalan atau keluhan juga selalu bisa diutarakan dengan kalimat positif.

Coba kalau sang remaja penghina Presiden memikirkan baik-baik mau bercanda apa dengan temannya, tidak bakalan dia berujung di kantor polisi. Ketakutan memikirkan masa depannya karena sudah menghina Kepala Negara yang jelas berarti melakukan pelanggaran hukum.

Di era digital ini, penting memiliki jempol yang juga dewasa. Jangan menjadi jempol yang hobi bersikap kasar dan tak terpuji ketika mengetik kata-kata bagi orang lain di media sosial atau lainnya.

Tak heran makanya kalau pepatah zaman sekarang harus diubah. Bila katanya, ibu tiri lebih kejam dari ibu kota, itu belum tentu. Karena sekarang, ibu jari warganet jauh lebih kejam lagi.  

*Jurnalis Republika

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA