Rabu, 2 Rajab 1441 / 26 Februari 2020

Rabu, 2 Rajab 1441 / 26 Februari 2020

 

Puasa itu Menyeimbangkan Jiwa

Rabu 23 Mei 2018 15:01 WIB

Rep: Amri Amrullah/Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko

Ramadhan

Ramadhan

Keimanan dan ketakwaan menuntun manusia menuju kebahagiaan sejati.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Prof. Rokhmin Dahuri menyampaikan tausiyah Ramadhan mengenai kebahagian hidup dalam konsep Islam. Menurut Guru Besar IPB ini kebahagian hidup seringkali disalahartikan dengan segala kelimpahan materi.

Pandangan ini membuat orang berjuang sekuat tenaga, mengabaikan sisi rohani demi terpenuhinya kebutuhan materi  bahkan diatas kebutuhan dasar, tahta dan jabatan tinggi serta popularitas yang tersohor.

"Setiap manusia normal mendambakan hidup sukses, bahagia, dan terhindar dari malapetaka serta kebangkrutan. Tidak ada satupun di dunia ini manusia yang bercita-cita untuk hidupnya gagal," tutur Rokhmin saat tausiyah ramadan di Masjid Agung Islamic Center Rokan Hulu, Riau, Selasa (22/5).

Rokhmin yang juga dikenal sebagai Pakar Kelautan ini menjelaskan dalam islam, konsep sukses dan ukuran kebahagiaan jelas tidak berpatokan pada banyaknya materi. Apalagi berpatokan pada terpenuhinya kebutuhan hidup diatas kebutuhan rata-rata, bergelimang harta disana-sani, tahta ataupun popularitas karena itu tidak menjadi jaminan kita untuk bahagia.

"Banyaknya harta, tingginya jabatan dan popularitas tidak menjamin kebahagiaan hidup," ujar ketua bidang maritim DPP PDIP ini.

Prof Rokhmin menegaskan bahwa dalam Islam konsep kebahagiaan dan kesuksesan hidup diukur dari keberkahan dan kemanfaatan hidup kita sendiri. Itu yang akan membuat kita tenang dan bahagia dalam hidup dan hal tersebut dapat kita capai dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Keimanan dan ketakwaan menurut Prof Rokhmin yang akan menuntun manusia menuju kebahagiaan sejati. Tidak menjadikan materi sebagai tujuan utama sehingga menghalalkan segala cara.

"Allah Azza wa Jalla, dengan gamblang memberikan pedoman sederhana, tapi pasti manjurnya bagi manusia untuk meraih kehidupan yang berhasil dan bahagia, baik di dunia maupun akhirat. Jurus hidup sukses dan bahagia tak lain beriman dan bertakwa kepada Allah SWT," paparnya.

photo
Takwa (ilustrasi).

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pun, prasyarat utama menjadi maju, adil-makmur, damai, berdaulat, dan penuh limpahan rahmat Allah adalah penduduknya harus beriman dan bertakwa. Sebagaimana firman Allah dalam Aquran surah al-Araf ayat 96.

"Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pasti Allah akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Allah), maka Allah siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan."

Menurut jumhur ulama, berkah itu berupa segala macam nikmat atau karunia dari Allah. Seperti, rakyat yang sehat, cerdas, pekerja keras, beretos kerja unggul, dan berakhlak mulia. Pemimpin yang capable, berintegritas, amanah, hidup sederhana, dan melayani rakyat.

Lalu apa hubungannya antara iman dan takwa dengan keberhasilan hidup manusia? Jawabannya terletak pada definisi dan pengertian takwa itu sendiri. Allah melalui Alquran dan hadis mengajarkan bahwa takwa adalah melaksanakan setiap perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya.

photo
Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI, Prof. DR. Ir. Rokhmin Dahuri saat menyampaikan tausyiyah Ramadhan di Masjid Agung Islamic Center Rokan Hulu, Riau, Selasa (22/5).

Selain itu, orang yang takwa di dalam hidupnya akan senantiasa berupaya maksimal sesuai kapasitas dan otoritas yang dimilikinya untuk menciptakan iklim kehidupan kondusif bagi manusia untuk beramal saleh ketimbang melakukan kemaksiatan dan dosa.

Perkuat Ibadah

Guru besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah, Prof Abdul Mujib mengungkap, dari perspektif psikologi, amalan di bulan suci ternyata dapat menyeimbangkan jiwa. Hal ini diungkapkan. Menurutnya, batin setiap manusia memerlukan keseimbangan supaya bisa merasakan kebahagiaan.

“Ramadhan mendorong umat Islam agar meraih keseimbangan tersebut melalui ibadah-ibadah, baik yang wajib maupun sunah. Dalam bahasa Ibnul Qayyim, sumber penyakit dalam diri manusia ada dua, yakni kekurangan dan kelebihan. Nah, berpuasa itu dari segi sosial bisa meningkatkan rasa empati kepada orang lain. Artinya, ingin berbagi, mengurangi yang berlebihan,” kata Abdul Mujib, saat dihubungi, Selasa (22/5).

Salah satu contoh ibadah dalam hal ini adalah zakat fitrah. Sebuah hadis menyatakan bahwa pahala puasa Ramadhan seseorang tergantung di antara langit dan bumi atau tidak terangkat kepada Allah kecuali bila orang itu menunaikan zakat fitrah. Artinya, menurut Abdul Mujib, rukun Islam ketiga merupakan penghantar diterimanya amalan shaum.

“Berarti, yang berlebihan itu akan dikurangi (dengan berzakat) dan yang berkurangan akan ditambah dengan (distribusi) zakat itu,” ucapnya.

Secara psikologi, Abdul Mujib menjelaskan, aspek keseimbangan ini berperan sangat penting. Kondisi kejiwaan yang terlampau tinggi, semisal sombong atau rasa angkuh, hasilnya tidak bagus, terutama dalam konteks hubungan sosial. Adapun kondisi psikologis yang terlalu rendah dapat membahayakan individu, seperti pada kasus-kasus depresi.

“Puasa itu menyeimbangkan jiwa, mood otak kita. Kalau merasa senang, itu bisa didapat dengan berbagi kepada orang lain. Kalau merasa kekurangan, maka berkumpulah di tempat-tempat ibadah, kebersamaan. Sama seperti saat buka puasa bersama,” ujarnya.

Selain persoalan keseimbangan, sambung Abdul Mujib, berpuasa di bulan Ramadhan juga dapat meredakan hawa nafsu dalam jiwa. Menurutnya, dalam diri setiap manusia terdapat dua nafsu kebinatangan, yakni yang buas dan jinak.

photo
Hawa nafsu/ilustrasi

Nafsu yang buas itu bersifat mengancam kesehatan jiwa, semisal marah. Adapun Islam mengajarkan seorang Muslim agar menahan amarahnya ketika sedang shaum Ramadhan. Kemudian, nafsu yang diibaratkan hewan jinak cenderung mengajak manusia pada perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah. Jenis yang demikian juga juga harus dikendalikan selama berpuasa.

Selama menunaikan ibadah shaum, jelas Abdul Mujib, energi nafsu syahwat dalam diri manusia diubah menjadi potensi dan motivasi untuk berbuat baik.

“Puasa itu bisa mengubah energi-energi negatif menjadi positif. Dengan shaum, potensi-potensi negatif, yang tadi diibaratkan seperti binatang buas dan binatang jinak, menjadi kemampuan dan kemauan atau motivasi berbuat baik dari sisi individu,” katanya.

Ibadah ini juga dapat menghilangkan hal-hal yang patologis dalam diri manusia. Abdul Mujib mengungkapkan, salah satu sumber penyakit pada jiwa adalah rasa berdosa (gulty feeling). Sasarannya bisa pada diri sendiri atau orang lain. Dengan melakukan shaum secara benar, sesuai tuntunan Rasulullah SAW, seorang Muslim dapat dijauhkan dari perasaan bersalah dan terbuka jiwanya menuju ampunan Allah.

“Rasa bersalah ibaratnya noktah-noktah hitam. Dampaknya bisa sombong, iri, dengki, dan lain-lain. Titik-titik hitam itu bisa hilang dengan kita puasa Ramadhan secara baik. Pada akhirnya (di akhir Ramadhan –Red), kita kembali fitrah, seperti bayi yang baru dilahirkan,” tukasnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES