Saturday, 13 Zulqaidah 1441 / 04 July 2020

Saturday, 13 Zulqaidah 1441 / 04 July 2020

Ekonomi Ramadhan

Senin 21 May 2018 06:07 WIB

Red: Elba Damhuri

Adiwarman Karim

Foto:
Ramadhan memberikan dampak besar terhadap roda perekonomian bangsa.

Ramadhan juga membantu bank sentral dalam mengelola peredaran uang. Tradisi menukarkan uang baru hanya terjadi pada momentum Ramadhan. Uang cetakan baru masuk ke peredaran, uang lusuh kembali ke bank sentral. Dikombinasikan dengan tradisi mudik, para pemudik ini tanpa banyak disadari ternyata banyak membantu pekerjaan bank sentral mendistribusikan uang cetakan baru sampai ke pelosok-pelosok desa. Secara moneter, Ramadhan memberikan dampak ganda. Pertama, jumlah uang yang beredar bertambah. Kedua, kecepatan perputaran uang juga bertambah.

Tradisi mudik mendorong hidupnya bisnis wisata. Tiket, hotel, jasa transportasi, dan bisnis makanan-minuman serta penjualan oleh-oleh sepanjang jalan mudik merupakan bisnis besar. Bengkel kendaraan bermotor, penjualan uang digital. Penugasan petugas yang melayani tradisi migrasi besar-besaran setahun sekali ini memberikan banyak efek ekonomi berantai.

Di beberapa daerah, Ramadhan juga berarti berbenah rumah, mengganti perabot, mirip dengan tradisi yang sama menjelang Imlek. Di semua daerah, Ramadhan berarti berbenah rumah ibadah. Penggunaan listrik perumahan meningkat, apalagi listrik rumah ibadah.

THR dan bisnis di bulan Ramadhan menimbulkan efek berantai yang pada akhirnya bukan saja mengompensasi penurunan produktivitas yang dikatakan Campante dan Yanagizawa, bahkan menghidupkan sendi-sendi perekonomian yang hanya terjadi pada bulan Ramadhan. Produktivitas menurun, tetapi perdagangan dan konsumsi meningkat melebihi penurunannya sehingga secara keseluruhan perekonomian bergerak, dan yang paling penting kebahagiaan masyarakat meningkat.
Piamjariyakul tidak keliru ketika menyimpulkan, “Ramadhan mempunyai peranan penting dalam membantu perekonomian Indonesia bangkit kembali dari kelesuan melalui peningkatan perdagangan dan konsumsi.”

Ramadhan memang bulan penuh berkah. Pintu surga terbuka lebar, pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu. Suasana politik keamanan yang sempat memanas menjelang Ramadhan mulai terasa sejuk. Kebaikan demi kebaikan berkembang menenggelamkan keburukan-keburukan. Kebesaran dan kelapangan jiwa mulai menggantikan kesempitan dan kekerdilan jiwa. Kemurahhatian dan kedermawanan mengisi relung-relung kosong kekikiran dan ketamakan.

Ramadhan jelas bukan sekadar ritual ibadah memperbanyak shalat Tarawih dan mengkhatamkan Alquran. Ramadhan memberikan dampak ekonomi yang besar menggerakkan kembali perekonomian yang sedang terkena imbas perang dagang negara-negara adidaya.

Sepatutnyalah kita berterima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah menghidupkan bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang tidak dapat berterima kasih kepada manusia, pada hakikatnya dia tidak bersyukur kepada Allah.”

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA