Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Dokter Lebanon Ini Kembali ke Gaza demi Kemanusiaan

Jumat 18 May 2018 17:02 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Bilal Ramadhan

Dr. Ghassan Abu-Sitta, seorang dokter yang mengabdikan diri untuk merawat ribuan orang di Gaza, Palestina.

Dr. Ghassan Abu-Sitta, seorang dokter yang mengabdikan diri untuk merawat ribuan orang di Gaza, Palestina.

Foto: CNN
Abu-Sitta telah merawat ribuan orang sejak pertama kali datang ke Gaza.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Dr Ghassan Abu-Sitta mempelajari selembar gambar X-ray melalui kacamata hitamnya. Ia kemudian membungkuk untuk memotong perban bagi pasiennya yang terkena infeksi akibat luka tembakan.

"Ini luka yang telah mengurasi banyak energi," ujar Abu-Sitta, menggambarkan luka di tubuh Maddah, seorang warga Palestina yang terkena peluru penembak jitu Israel.

Maddah yang berusia 18 tahun hanyalah satu dari banyak pasien yang dirawat oleh Abu-Sitta sejak warga Palestina memulai serangkaian aksi protes yang dikenal sebagai Great March of Return. Konfrontasi antara tentara Israel dan para pengunjuk rasa makin memburuk pada Senin (14/5), terkait relokasi Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Maddah ditembak pada 30 Maret ketika aksi unjuk rasa dimulai dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit al-Awda di Gaza. Di rumah sakit, ia tampak waspada terhadap dokter yang merawatnya karena ia tidak memahami penjelasan yang diberikan dalam bahasa Inggris kepada staf rumah sakit.

Perban membalut kaki bagian bawah Maddah, yang dilengkapi dengan pin fiksasi eksternal. Saat Abu-Sitta mengangkat kakinya, Maddah mengerang kesakitan.

Abu-Sitta telah merawat ribuan orang sejak pertama kali datang ke Gaza sebagai mahasiswa kedokteran saat Intifada Pertama pada akhir 1980-an. Dia kembali beberapa kali ke Gaza untuk merawat warga Palestina yang terluka di Intifada Kedua, pada perang 2008-2009, perang 2012, perang 2014, dan sekarang ini.

Abu-Sitta menjabat sebagai Direktur Departemen Bedah Plastik dan Rekonstruksi di American University of Beirut Hospital. Menurut dia, dia telah menghabiskan 40 persen waktunya untuk mengobati korban perang dari Suriah, Irak, Yaman, dan Libia. Ia juga merawat korban perang saudara di Lebanon.

"Sayangnya, kita harus menerima bahwa cedera perang sekarang telah menjadi penyakit endemik di wilayah ini," kata Abu-Sitta.

CNN bertanya pada Abu-Sitta tentang klaim anggota senior biro politik Hamas, Salah al-Bardaweel, yang mengatakan 50 korban tewas di Gaza adalah anggota Hamas. Namun, Abu-Sitta hanya mengangkat bahu. Ia menunjukkan keputusasaan, terlepas dari siapa yang mungkin telah memainkan peran dalam mengatur para demonstran.

"Mereka miskin. Mereka adalah orang-orang yang telah tertindas sebelum pengepungan dan kini makin tertindas," ungkapnya.

Pengepungan yang dimaksud Abu-Sitta mengacu pada blokade yang diberlakukan Israel terhadap Jalur Gaza pada 2006, setelah Hamas berkuasa. Namun, dia mengatakan, di tengah pertumpahan darah, warga Gaza masih disibukkan dengan persiapan menyambut bulan suci Ramadhan yang dimulai pada Kamis (17/5).

Meski lebih dari 100 orang dilaporkan tewas sejak Maret lalu dan ribuan orang terluka, makanan tetap perlu dipersiapkan dan anak-anak tetap perlu bersekolah. Di pasar utama Gaza hanya ada sedikit warga yang membicarakan tentang politik atau peristiwa bentrokan yang terjadi baru-baru ini.

Jika para pejabat Israel menganggap pertumpahan darah adalah kemenangan bagi mereka, tentu saja hal itu tidak terasa di Gaza. Salma, seorang wanita tua berkacamata hitam, mengaku dia merasa Gaza hari ini lebih terisolasi dari sebelumnya. Palestina dicemooh oleh AS dan ditinggalkan oleh pendukung Arab-nya.

"Seolah-olah mereka belum pernah mendengar tentang tempat yang disebut Gaza. Mereka mengutuk apa yang terjadi, tetapi tidak melakukan apa pun," kata dia.

Pada Kamis (17/5) sore di Kota Gaza, pengeras suara di sebuah masjid di dekat Square of the Unknown Soldier menyerukan agar orang-orang kembali melakukan aksi protes pada Jumat (18/5) di sepanjang pagar yang memisahkan Gaza dari Israel. Mendengar seruan itu, Abu-Sitta mengatakan, dia dan rekan-rekannya akan kembali menghadapi hari yang sibuk.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA