Saturday, 26 Zulqaidah 1443 / 25 June 2022

HNW: Hadirkan Pancasila untuk Cegah Terorisme

Selasa 15 May 2018 12:01 WIB

Red: Ani Nursalikah

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW).

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW).

Foto: MPR
Pelaksanaan Pancasila yang baik bisa mengatasi teror dan terorisme.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mengapresiasi Sarasehan Nasional Kebudayaan yang digelar Lembaga Pengkajian MPR (Lemkaji). Sarasehan yang berlangsung di Gedung Nusantara IV, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, Selasa (15/5) dengan tema ‘Budaya Pancasila Sebagai Peradaban Indonesia’ disebut sangat penting sebab hari-hari ini dan ke depan perlunya kembali menegaskan Pancasila sebagai budaya bangsa.

“Agar Pancasila bisa merasuk ke jiwa seluruh bangsa Indonesia,” ujar HNW.

Dalam tahun politik, menurut HNW, kompetisi yang terjadi antarpartai politik dan masyarakat terjadi sangat luar biasa. Di sinilah pentingnya budaya Pancasila.

“Bila lupa Pancasila, kita khawatir politik yang terjadi hanya berorientasi jangka pendek, hanya sekadar menang pilkada dan pilpres,” ujarnya.

Untuk itu dalam sarasehan yang dihadiri budayawan itu disebut sebagai momentum yang sangat bagus untuk mengingatkan kepada semua masyarakat. “Kita segarkan kembali budaya Pancasila,” ujarnya.

Menyegarkan budaya Pancasila saat ini, apalagi di tengah maraknya kembali masalah teror dan terorisme, menurut HNW sangat perlu. Dirinya yakin bila kita melaksanakan Pancasila dengan baik maka masalah teror dan terorisme bisa diatasi. Dirinya menyebut sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Mahaesa.

photo
“Tidak ada agama mana pun yang mengajarkan teror dan terorisme,” ujarnya.

HNW mengutip pernyataan Menkopolhukam Wiranto masalah teror dan terorisme akar masalahnya karena adanya kesenjangan sosial dan ekonomi. Dalam konteks sila kelima Pancasila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, maka bila negara ingin memberantas teror dan terorisme secara efektif dan maksimal, negara harus menghadirikansila kelima.

“Agar permasalahan yang ada bisa diatasi,” kata pria asal Klaten, Jawa Tengah itu.

Ketua Lemkaji Rully Chairul Azwar mengatakan, Pancasila tidak mewarnai sistem ekonomi, politik, dan hukum karena terjadi kesenjangan antara cita moral dan kenyataan. “Tidak satunya kata dan perbuatan,” ujarnya.

“Munafik menjadi gejala umum dalam tataran pergaulan keseharian,” tambahnya.

Menurut Rully, persoalan yang terjadi bukan pada tataran konsep namun pada tataran internalisasi dan penerapan. Rully menegaskan, kita tak perlu ragu menjadikan Pancasila sebagai basis nilai untuk membangun bangsa.

Dia mengatakan peradaban maju dunia selalu dikaitkan dengan nilai budaya yang dianut masyarakat. Ia mencontohkan kemajuan peradaban Barat karena nilai-nilai budaya etika protestan. Bangsa-bangsa Asia Timur maju karena nilai konfusianisme atau semngat Bushido.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA