Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Kapolri: Pelaku Pengeboman Tahu Cara Hindari Intelijen

Senin 14 May 2018 03:00 WIB

Red: Bayu Hermawan

Kapolri Jenderal Tito Karnavian

Kapolri Jenderal Tito Karnavian

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Kapolri menegaskan akan terus berusaha mempersempit ruang gerak jaringan terorisme.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengatakan, pelaku pengeboman tiga gereja di Surabaya adalah orang-orang terlatih yang mengerti dan mengetahui cara menghindari intelijen. Kapolri menegaskan, pihaknya akan terus berusaha maksimal mempersempit ruang gerak jaringan terorisme.

"Mereka orang-orang terlatih, mengerti cara menghindari intelijen kita," kata Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian di Surabaya, Ahad (14/5).

Tito mengaku timnya sudah mendapatkan buku manual mereka yang berisi tentang cara menghindari komunikasi, bertahan hidup, hingga meng-counter interogasi. Kelompok teroris itu kata Tito, memiliki buku manual khusus yang terus mereka pelajari.

"Mereka berlatih bagaimana cara menghindari deteksi kita," katanya.

Tito menegaskan, Polri akan terus berupaya maksimal memberantas jaringan terorisme. "Kelompok ini tidak terlalu besar, hanya sel-sel kecil, mereka tidak mungkin mengalahkan negara, mengalahkan POLRI, TNI," katanya.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu padu melawan terorisme. "Mohon dukungan semua pihak agar kita bisa melakukan tindakan," katanya.

Sebelumnya Kapolri mengatakan, pelaku pemgeboman di tiga gereja di Surabaya merupakan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid atau (JAT). Kelompok tersebut merupakan pendukung utama ISIS yang ada di Indonesia.

"JAT ini didirikan dan dipimpin oleh Aman Abdurrahman yang sekarang ditahan di Mako Brimob. Kemudian kelompok yang satu keluarga ini terkait dengan sel JAD yang ada di Surabaya. Ini adalah ketuanya Dita ini," ujar Tito di RS Bhayangkara Surabaya, Jalan Ahmad Yani, Ahad (13/5) sore.

Tito juga mengungkapkan motif yang diduga melatarbelakangi penyerangan tersebut. Pertama, karena di tingkat internasional ISIS sudah ditekan baik oleh Amereika Serikat maupun Rusia. Sehingga mereka dalam keadaan terpojok.

Kemudian motif yang kedua adalah terkait kejadian lokal yang juga menjadi masalah bagi mereka. Itu tak lain karena pimpinan-pimpinan mereka sudah dilakukan penangkapan. Seperti Aman Abdurahman yang masih ditahan di Rutan Mako Brimob.

"Yang bersangkutan selain terkait dengan pelatihan militer di Aceh, juga terkait dengan peristiwa bom Thamrin. Dia salah satu dalang kasus bom Thamrin," kata Tito.

(Baca juga: Ini Dugaan Motif Teror Bom di Surabaya Menurut Kapolri)

Setelah Aman ditahan, lanjut Tito, kemudian digantikan sosok lain. Dimana yang ditunjuk adalah ketua JAD Jawa Timur bernama Zainal Anshori. Dia kemudian di tangkap lagi dalam kaitan membiayai penyelundupan senjata dari Philipina.

"Karena ditangkap pimpinannya ini kemudian kelompok-kelompok ini mulai bereaksi untuk melakukan pembalasan. Salah satunya dengan membuat kerusuhan di Mako Brimob. Jadi tidak sekedar hanya masalah makanan tapi memang sudah ada kemarahan," kata Tito.

Teror bom melanda wilayah Surabaya pada Ahad (13/5) pagi. Ledakan bom pertama kali terjadi di Gereja Santa Maria di Jalan Ngagel, sekitar pukul 06.30 WIB. Ledakan bom kedua terjadi di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, sekitar pukul 07.15 WIB. Terakhir, aksi teror bom terjadi di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna pada pukul 07.53 WIB.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA