Saturday, 18 Sya'ban 1441 / 11 April 2020

Saturday, 18 Sya'ban 1441 / 11 April 2020

Trump Ingin Tarik Mundur Pasukan AS dari Korsel

Jumat 04 May 2018 11:49 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Nidia Zuraya

Presiden AS Donald Trump (kanan) bersama Presiden Korsel Moon Jae-in saat upacara penyambutan di Istana biru di Seoul, Selasa (7/11).

Presiden AS Donald Trump (kanan) bersama Presiden Korsel Moon Jae-in saat upacara penyambutan di Istana biru di Seoul, Selasa (7/11).

Foto: Kim Hong-ji/Pool Photo via AP
Saat ini AS menempatkan sekitar 23.500 pasukan tentara di Korsel

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan Pentagon untuk mempersiapkan diri guna menarik mundur militer negara dari Korea Selatan (Korsel). Paman Sam saat ini memiliki sekitar 23.500 pasukan tentara di Korsel.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan, penarikan mundur pasukan AS bukan menjadi alat tawar menyusul rencana pertemuan dengan Korea Utara. Trump menilai, kehadiran militer sudah tidak terlalu diperlukan dan bisa dikurangi menyusul perdamaian kedua Korea.

"Namun pasukan tampaknya tidak akan ditarik mundur sepenuhnya," kata pejabat tersebut, Jumat (4/5).

Presiden Trump direncanakan akan mengadakan pertemuan dengan Pemimpin tertinggi Korut Kim Jong-un pada akhir Mei atau awal Juni nanti. Kim sudah sejak lama meminta AS untuk segera menarik mundur pasukan mereka dari Korsel dan Semenanjung Korea.

Namun, Trump tidak keberatan untuk mempertahankan keberadaan 23.500 personel militer di Korsel. Syaratnya, pemerintah Korsel harus bersedia membayar lebih banyak anggaran operasional bagi puluhan ribu tentara tersebut.

Pentagon hingga saat ini belum memberikan komentar terkait rencana tersebut. Pemerintah Korsel sebelumnya meminta AS untuk tidak menarik mundur pasukan mereka ditengah terciptanya perdamaian antara Korea.

Pemerintah berpendapat, keberadaan pasukan AS di Korsel berperan sebagai mediator konflik dengan negara-negara dengan kekuatan militer besar seperti Cina dan Jepang. Kendati, posisi keberadaan militer asing dinilai menjadi tidak jelas setelah pakta perdamaian ditandatangani.

"Keberadaan pasukan Amerika merupakah masalah persekutuan dengan Korsel dan AS, tidak hubungannya dengan perjanjian damai," kata Juru Bicara Kepresidenan Korsel Kim Eui-kyeom.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA