Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

 

Taat Itu Nikmat

Kamis 03 Mei 2018 15:49 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: alifmusic.net
Taat beragama Islam dapat menjadikan Muslim mendapat petunjuk Allah.

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Muhih Abdul Wahab

Taat dalam bahasa Arab pada awalnya berarti menemani atau mengikuti. Hakikat taat merupakan sikap dan tindakan yang tulus dalam mematuhi perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Lawan taat adalah maksiat, durhaka, melanggar syariat. "Tidak ada keharusan menaati perintah jika dia bermaksiat kepada Allah, tetapi keharusan taat itu berlaku dalam rangka berbuat kebaikan." (HR Bukhari dan Muslim).

Sayyid Quthb dalam tafsirnya, Fi Zhilal al-Qur'an, menjelaskan, Islam tidak akan pernah eksis tanpa ketaatan Muslim kepada syariat-Nya. Energi taat itu bersumber dan dimotivasi oleh nilai-nilai tauhid. Karena itu, taat yang diperintahkan Alquran adalah taat kepada Allah, Rasulullah, dan pemimpin (al-Nisa'[4]: 58).

Menurut Muhammad 'Abduh, taat kepada Allah sama dengan mematuhi Alquran, taat kepada Rasul identik dengan mengikuti sunahnya, dan taat kepada ulil al-amri (pemimpin) berarti menjalankan konsensus pemimpin yang dipercaya umat dalam mengemban visi kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan umat, baik itu ulama, kepala negara, maupun legislatif.

Taat beragama Islam dapat menjadikan Muslim mendapat petunjuk Allah dan kasih sayang-Nya (an-Nur [24]: 54), selalu beruntung (al-Ahzab [33]: 71), memperoleh nikmat-Nya bersama para Nabi, Syuhada, dan orang-orang saleh (al-Nisa' [4]: 69), serta memperoleh ampunan dan surga-Nya (al-Fath [48]: 16-17).

"Muslim harus mau mendengar dan taat kepada ajaran Islam, baik yang disukai maupun tidak disukai. Tetapi, jika ia diperintahkan untuk maksiat, maka tidak ada keharusan untuk mendengar dan menaatinya." (HR Bukhari dan Muslim).

Beragama Islam tanpa dibarengi ketaatan adalah omong kosong. Said Hawwa berpendapat, tidak ada yang lebih penting dalam Islam selain tiga hal: takwa, ibadah, dan taat. Dua hal pertama (takwa dan ibadah) ibarat dua sisi mata uang, sedangkan yang taat merupakan kunci terlaksananya dua hal pertama. Muslim yang bertakwa harus dibarengi ketaatan menjalankan syariat.

Islam akan membawa rahmat bagi semua jika setiap Muslim berkomitmen untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Realisasi taat dapat diwujudkan dengan jamaah. "Tidak ada Islam tanpa berjamaah, sementara tidak ada jamaah tanpa ada kepemimpinan, dan tidak ada kepimpinan tanpa ketaatan." (HR ad-Darimi).

Dalam beragama maupun bermasyarakat dan bernegara, ketaatan merupakan kunci keberhasilan. Jika pemimpin mampu memberi keteladanan dalam ketaatan menegakkan hukum, tidak tebang pilih, niscaya rakyat akan mencintai dan mematuhi hukum. Sebaliknya, jika pemimpin hanya menebar pesona, berjanji tanpa bukti, menginstruksikan ketaatan tanpa keteladanan, kepemimpinannya ibarat 'macan ompong', tidak efektif.

Alquran melarang kita taat kepada para pemimpin yang menyesatkan (al-Ahzab [33]:34), orang kafir (al-Furqan [25]: 52), orang munafik (al-Ahzab [33]: 48), pendusta ayat-ayat Allah (al-Qalam [68]: 8), serta orang yang banyak bersumpah dan hina (al-Qalam [68]: 10). Menjadi taat harus berusaha mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil'alamin melalui gerakan amar makruf nahi mungkar secara damai, dialogis, dan persuasif karena taat itu nikmat.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES