Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Nabi Pemalu

Ahad 29 Apr 2018 14:28 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko

Dalam Alquran Nabi Musa dan Nabi Khidir bertemu di sebuah lokasi (Ilustrasi)

Dalam Alquran Nabi Musa dan Nabi Khidir bertemu di sebuah lokasi (Ilustrasi)

Berada di sisi Allah bagi para nabi dan hamba salih adalah kenikmatan tak terhingga.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dia selalu menutup auratnya dengan sempurna. Kulit tubuhnya selalu tertutup pakaian yang dikenakan. Orang hanya dapat melihat kepala, pergelangan tangan, dan kaki.

Saat lelaki Bani Israil terbiasa mandi telanjang bersama- sama, memamerkan lekukan tubuh dan alat kelamin, lelaki ini justru selalu mandi seorang diri. Dia tak ingin mengumbar auratnya kepada orang lain.

Inilah kebiasaan anak angkat Fir'aun, Musa Alaihis Sa lam (AS). Dia malu memper li hat kan tubuhnya kepada se sama. Malu merupakan ke kha san manusia yang tidak dimi liki makhluk lainnya. Perasaan ini membuat seseorang terhin dar dari sifat kebinatangan se hingga lebih menguatkan sifat kemanusiaannya yang cerdas, berakhlak mulia, dan taat kepada Sang Ilahi.

Musa selalu merasa malu jika membuka aurat di tempat umum. Dia berusaha untuk menu tupinya sehingga hanya dirinyalah yang mengetahui apa yang ada di balik kain yang dikenakannya.

Namun, sifat mulia ini justru dimaknai lain. Bani Israil menjadikan akhlak mulia itu sebagai bahan untuk memfit nah sang rasul ulul azmi. De ngan keji, mereka menuduh Musa memiliki penyakit kulit yang menular hingga menji jik kan untuk dilihat orang lain sehingga malu memperlihat kannya kepada orang lain, terutama saat mandi bersama.

Tak hanya itu, ada pula yang menebar fitnah bahwa tu buh Musa cacat. Belum ber henti juga, mereka menyebar dus ta bahwa Musa memiliki kelainan alat kelamin.

Semua kebohongan itu sam pai ke telinga sang Nabi dan Allah. Yang Mahakuasa tak rela utusannya dihina sedemi kian rupa. Suatu ketika Musa pergi mandi seorang diri seperti biasanya. Dia meletakkan ba junya di atas batu. Namun, ke tika Musa selesai mandi batu itu terbang membawa bajunya.

Musa terkejut karena baju yang hendak dipakainya terbang bersama batu tersebut. Musapun mengejar batu itu hing ga Bani Israil melihat Musa berlari telanjang. Ketika itu, Bani Israil menyaksikan tubuh Musa tak ada cacat sedikit pun. Tak ada jamur penyakit kulit yang merusak kulitnya. Isu miring tentang Musa hilang seketika. Setelah melewati Bani Israil, batu itu berhenti dan Musa mengambil pakaiannya.

Musa kemudian mengambil tongkatnya dan memukuli batu itu karena kesal dan marah. Namun, dia sadar bahwa batu adalah benda mati, tetapi tak se harusnya benda tersebut bergerak. Maka, Musa me mukulnya seperti pukulan orang yang men didik. Uniknya, meski terbuat dari kayu, tongkat Musa meninggalkan bekas di batu yang cukup keras tersebut. Padahal, jika itu tongkat kayu, bia sa jika dipukulkan pada batu maka akan patah.

Kisah ini tertulis dalam hadis yang diriwayatkan Imam Buk hari. Allah pun me nga badikan kisah tersebut dalam firmannya surah al-Ahzab 69.

Musa dikenal sebagai pemim pin yang disegani umatnya. Dia tidak ragu meng ha dapi segala perkara yang ter jadi di hadapannya. Dia selalu tegas bersikap, termasuk kepa da Bani Israil yang berwatak keras kepala.

Suatu ketika malaikat Izrail datang kepada Musa meminta izin untuk mencabut nyawanya. Musa justru menampar malaikat tersebut. Ini karena malaikat tersebut menyamar menjadi laki-laki.

Rasulullah memang pernah bersabda bah wa di antara kemuliaan para Nabi di sisi Allah adalah me reka diberi pilihan menjelang ke matian, antara hidup di du nia atau berpindah ke Rafiqul A'la. Dalam beberapa hadis sa hih dari Aisyah bahwa Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam di beri pilihan dan beliau memilih Rafiqil A'la.

Demikian juga yang terjadi de ngan Musa, saat itu Allah mengutus malaikat Izrail yang menjelma dalam wujud seorang laki-laki kepada Musa. Malaikat meminta agar Musa menjawab panggilan Allah. Ini berar ti bahwa ajalnya telah tiba dan saatnya telah dekat.

Namun, Musa dikenal memang memiliki temperamen cukup tinggi hingga dia me nampar wajah malaikat maut dan merusak matanya (mata manusia). Karena seandainya dia dalam wujud aslinya, yakni malaikat, Musa tidak akan mam pu menamparnya.

Kemudian Malaikat Izrail kem bali kepada Allah untuk me ngadukan apa yang dilakukan oleh Musa. Lalu, Allah menyembuhkan matanya dan menyuruhnya kembali kepada Musa. Sang nabi pernah bertanya, jika dia memilih tetap hidup, apa yang akan didapatkannya? Malaikat itu pun menja wab bahwa ujung kehidupan panjang itu tetaplah kematian. Maka, Musa memilih untuk lebih cepat berada di sisi Allah. Berada di sisi Allah bagi para nabi dan hamba salih adalah kenikmatan tak terhingga.

Jika ruh para syuhada berada di perut burung hijau yang berterbangan di kebun-kebun surga, memakan buah-buah nya, minum dari sungainya dan berlindung di lampu-lampu yang bergantung di atap `Arasy Allah, maka kehidupan para nab i dan rasul adalah di atas semua itu.

Apa yang didapat oleh Musa seandainya dia hidup sampai hari ini, dia pasti memikul kesulitan-kesulitan dunia dan ujian-ujiannya. Dia akan menyak sikan peristiwa-peristiwa besar sepanjang sejarah yang membuat pikiran sibuk dan ha ti bersedih.

Musa memohon kepada Allah pada waktu ruhnya dicabut agar didekatkan kepada tanah yang suci yang jauhnya sepelemparan batu. Permintaan Musa ini adalah wujud kecin ta annya kepada tanah suci se hingga dia meminta dikubur di perbatasannya, dekat dengan kota suci. Musa memang tidak meminta kepada Allah agar mewafatkannya di tanah suci karena dia mengetahui bahwa Allah mengharamkan keturunan Musa untuk masuk ke tanah suci.

Ini sebagai hukuman atas ketidaktaatan mereka kepada perintah Tuhan mereka agar masuk ke tanah suci seperti yang telah Allah tulis untuk mereka. Mereka berkata, Per gilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini. (QS al- Maidah: 24). Lalu Allah menulis atas mereka kesesatan selama 40 tahun di gurun Sinai.

Allah menjawab doa Musa. Rasulullah telah menyam pai kan bahwa kuburan Musa ter letak di pinggiran tanah suci di dataran pasir merah. Seandainya saat menceritakan kisah itu Rasul berada di sana, Nabi Muhammad akan menunjuk kan tempat itu kepada sahabat-sahabatnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA