Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Tabanan Gelar Tanah Lot Art and Culture Weekend

Rabu 18 Apr 2018 22:58 WIB

Red: Angga Indrawan

Festival Tanah Lot. Ilustrasi

Festival Tanah Lot. Ilustrasi

Foto: Ist
Sekaligus mengembalika kunjingan wisatawan pascaerupsi Gunung Agung.

REPUBLIKA.CO.ID, TABANAN -- Dalam rangka meningkatkan kunjungan wisatawan ke Tanah lot Bali, Pemerintah Kabupaten  Tabanan bekerja sama dengan Daerah Tujuan Wisata (DTW) Tanah Lot menggelar rangkaian acara bertajuk Tanah Lot Art and Culture Weekend yang akan di adakan selama tiga hari yaitu pada tanggal 20 hingga 22 April 2018. 

 

Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti mengungkapkan, pascaerupsi Gunung Agung, kunjungan wisatawan ke Tanah Lot sempat mengalami penurunan hingga 0,78 persen. Untuk itu, dibutuhkan sebuah inovasi yang dapat menarik para wisatawan, salah satu caranya dengan mengadakan rangkaian festival.

 

“Kunjungan wisatawan ke Tanah Lot berdasarkan data saat ini saja pada tahun 2018 per tanggal 15 maret sebanyak 902.564 yang terdiri dari  441.617 wisatawan domestik dan 460.947 wisatawan mancanegara. Saya berharap di Tahun ini jumlah wisatawan bisa mencapai 3 juta lebih," ujar Eka. 

 

Eka juga menambahkan selain untuk mendongkrak kunjungan wisatawan, event tersebut juga diadakan guna memperkenalkan seni dan budaya daerah yang dikolaborasikan dengan visualisasi modern.

 

“Event yang berlangsung selama tiga hari ini merupakan collaboration event yang belum pernah ada. Event yang menggabungkan ide, imajinasi, pengalaman, interaktif dan inisiatif akan mengandalkan seni budaya yang didukung multimedia efek digital menampilkan visualisasi modern sehingga akan lebih menarik,” Tambah Eka.  

 

Manager operasional DTW Tanah Lot Toya Adnyana menambahkan tema yang diangkat pada festival tersebut adalah “Harmonisasi Seni dan Budaya dalam Visualisasi Modern” yang terdiri dari berbagai rangkain event seperti art culture and festival, after sunset illuminated garden (light garde), hingga coffe festival.

 

“Untuk art culture and festival dikemas dengan konsep harmonisasi seni tradisi Bali dan visual modern di antaranya interaktif multimedia, permainan lighting dan audio. Sedangkan after sunset illuminated garden (light garde) dikemas dengan konsep karya seni visual berupa penciptaan ilusi optik," ungkap Toya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA