Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Makna Isra Mi’raj

Jumat 13 Apr 2018 08:31 WIB

Red: Elba Damhuri

Langit malam berbintang/ilustrasi

Foto:
Kita memang sudah mengerjakan shalat, tapi gagal dalam mendirikannya.

Dalam bahasa Sosiolog Weber (1864-1920), tindakan yang dilandasi materi disebut dengan tindakan “rasional kalkulatif”, yaitu tindakan yang dilandasi tujuan-tujuan yang bersifat materialistik. Sebagai bagian dari tindakan rasional, materialisme pada mulanya sangat anti-agama.

Bagi Epikuros, bapak materialisme, materialisme menolak eksistensi Tuhan dan segenap ajarannya karena Tuhan tidak bisa diverifikasi secara ilmiah. Wujud Tuhan hanya ada dalam imaji penganutnya dan tidak riil secara empiris.

Jadi dalam konteks ini, perspektif materialisme sebenarnya menolak keabsahan Isra Mi’raj. Kabar yang menyatakan Nabi SAW dalam semalam telah melakukan perjalanan dari Makkah ke Baitul Makdis (Palestina) kemudian disambung ke “Sidratul Muntaha” (satu tempat di atas langit ketujuh) susah untuk bisa diterima secara rasional-materialistik.

Bagi mereka, secara akal sehat, sulit untuk bisa menerima bahwa seseorang “mampu” melakukan perjalanan seperti itu. Apalagi hanya dalam waktu semalam. Karena itu, bagi materialisme peristiwa Isra Mi’raj Nabi hanya menghasilkan dua kesimpulan.

Pertama, peristiwa tersebut hanya mimpi Muhammad. Kedua, peristiwa itu hanya karang-karangan Muhammad. Pada yang pertama, soal mimpi, bisa dipatahkan dengan mengingat ada sumber otoritatif yang menyebutkan bahwa Nabi hafal dan tahu pernak-pernik, seperti jumlah jendela dan tiang-tiang Masjidil Aqsa.

Padahal, tidak ada catatan sejarah yang menunjukkan bahwa Nabi sebelumnya pernah berkunjung ke tempat itu (Masjidil Aqsa). Pengetahuan Nabi yang mendetail tentang Masjidil Aqsa tidak mungkin dikarang-karang apalagi berasal dari mimpi.

Karena itu, pastilah Nabi benar-benar hadir di tempat itu sehingga bisa menjelaskan secara detail informasi tentang Masjidil Aqsa. Pada yang kedua, terkait tudingan karang-karangan alias cerita bohong Nabi, bisa ditolak dengan mengemukakan jejak rekam Muhammad sebagai orang yang mendapat gelar Al-Amin (yang terpercaya).

Gelar tersebut bukanlah pemberian pengikutnya melainkan menjadi pengakuan suku Qurasy, baik beriman maupun kafir, pada integritas dan kejujuran Nabi. Dan, gelar tersebut didapat jauh sebelum beliau diangkat sebagai Rasul. Jadi, bagi kita tak ada sedikit pun keraguan pada peristiwa Isra Mi’raj tersebut.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA