Tuesday, 3 Jumadil Awwal 1443 / 07 December 2021

Tuesday, 3 Jumadil Awwal 1443 / 07 December 2021

Penodaan Islam dan Kasus Ki Panji Kusmin di Awal Orde Baru

Selasa 10 Apr 2018 11:39 WIB

Red: Muhammad Subarkah

  Potret Tokoh sastra H.B. Jassin di salah satu ruangan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Jakarta, Kamis (8/9). (Republika/Rakhmawaty La'lang)

Potret Tokoh sastra H.B. Jassin di salah satu ruangan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Jakarta, Kamis (8/9). (Republika/Rakhmawaty La'lang)

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Sejak zaman Belanda dan Orde Baru masalah penghinaan agama mengancam tertib sosial.

Oleh: Muhammad Subarkah*

Setelah rezim Sukarno tumbang seiring dengan tersungkurnya PKI dalam pentas politik Indonesia, rezim Soeharto yang menyebut diri sebagai Orde Baru, naik tahta menggantikannya. 

Namun, sebelum ‘lengser keprabon’,  pada 27 Januari 1965 Presiden Sukarno menerbitkan Penetapan Presiden Republik Indonesia (Pepres) Nomor 1 tahun 1965, tentang pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama. Perpres ini kemudian menetapkan menambahkan pasal penodaan agama di dalam bab yang mengatur tentang ketertiban umum, Pasal 156 a KUHP. Tujuannya diantaranya adalah untuk menjaga tertib sosial di masyarakat.

Tapi pertanyaannya kemudian: Apakah sinisme terhadap agama –di antaranya Islam--  menjadi berhenti?  Jawabannya ternyata tidak! Sinisme (bahkan bisa disebut phobia) terus berlanjut.

Sebagai ujian pertama ‘keampuhan’ pasal ini terjadi pada bulan Agustus 1968 atau justru di masa awal Orde Baru. Majalah sastra termuka yang diasuh HB Jassin --Majalah Sastra, Th. VI. No. 8, Edisi Agustus 1968 – mempublikasikan cermin kontroversial ‘Langit Makin Mendung’ karya sesorang yang menyebut dirinya sebagai Ki Panji Kusmin.

Saat itu kontroversi pun meledak hebat. Umat Islam saat itu merasa tersinggung dengan cerpen tersebut yang dianggap menghina Islam.
                                                            

                                                         *****
Dan memang, bila dibaca memang cerpen ini tampak bersikap pejoratif atau mengolok-olok kesucian Allah, ajaran Islam, Nabi Muhammad beserta sahabatnya.  Selain itu, isinya tak jauh beda dengan kisah Gatoloco. Cuma yang membedakannya, cerpen ini dibat pada zaman yang lebih kontemporer.

‘Langit Makin Mendung’ bermasalah serius karena memuat hal-hal yang memantik atau berbau pejotaratif terhadap simbol agama Islam, yaitu posisi keberadaan Allah dan posisi malaikat Jibril. Di cerpen itu bahkan ada penggalan kisah suasana prostitusi di Pasar Senin kala itu meski tak vulgar.

Salah satu contohnya ada pada bagian tengah cerpen tersebut. Penggalan kisahnya seperti ini:

.....Muhammad segera naik ke punggung buraq – kuda sembrani yang dulu jadi tunggangannya waktu ia mi’raj. Secepat kilat buraq terbang ke arah bumi dan Jibrail yang sudah tua terengah-engah mengikuti di belakang. Mendadak, sebuah sputnik melayang di angkasa hampa udara.

“Benda apa di sana?” tanyanya keheranan.
“Orang bumi bilang sputnik! Ada tiga orang di dalamnya, ya Rasul.”
“Orang? Menjemput kedatanganku?” (Gembira)
“Bukan, mereka justru rakyat negara kapir terbesar di bumi. Pengikut Marx dan Lenin yang ingkar Tuhan. Tapi pandai-pandai otaknya.”
“Orang-orang malang. Semoga Tuhan mengampuni mereka. Aku ingin lihat orang-orang kapir itu dari dekat. Ayo buraq!”

Buraq melayang deras menyilang arah sputnik mengorbit. Dengan pedang apinya Jibrail memberi isyarat sputnik berhenti sejenak. Namun, sputnik Rusia memang tidak ada remnya. Tubrukan tak dapat dihindarkan lagi. Buraq beserta sputnik hancur jadi debu; tanpa suara, tanpa sisa. Kepala-kepala botak di lembaga aeronautic di Siberia bersorak gembira.

“Diumumkan bahwa sputnik Rusia berhasil mencium planet tak dikenal. Ada sedikit gangguan komunikasi…” terdengar siaran radio Moskow.

Muhammad dan Jibrail terpental ke bawah. Mujur mereka tersangkut di gumpalan awan yang empuk bagai kapas.

“Sayang-sayang. Neraka bertambah tiga penghuni lagi.” Bisik Muhammad sedih. Sejenak dilontarkan pandangannya ke bawah. Hatinya tiba-tiba berdesir ngeri.
“Jibrail, neraka lapis ke berapa di sana gerangan?”
“Paduka salah duga. Di bawah kita bukan neraka tapi bagian bumi yang paling durhaka, Jakarta namanya. Ibu kota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat yang malas dan bodoh. Tapi ngakunya sudah bebas buta huruf.” (Ki Panji Kusmin, Langit Makin Mendung: Majalah Sastra, Th. VI. No. 8, Edisi Agustus 1968).
                                                                    

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA