Friday, 11 Rabiul Awwal 1444 / 07 October 2022

Masjid Sehitlik Mirip dengan Masjid di Tokyo dan Askabat

Ahad 08 Apr 2018 22:41 WIB

Red: Agung Sasongko

Masjid Sehitlik di kota Berlin

Masjid Sehitlik di kota Berlin

Foto: /www.webmastergrade.com
Masjid ini dirancang oleh seorang arsitek Turki bernama Hilmi Senalp.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebanyakan masyarakat yang datang ke masjid tersebut berbahasa Turki atau Arab. Namun, tidak sedikit pula masyarakat Jerman yang mengunjungi masjid tersebut. Khutbah Jumat di Masjid Sehitlik menggunakan bahasa Jerman.

Tempat sujud itu dibangun seiring bertambahnya jumlah etnis Turki pada 1983. Masjid yang memiliki sejarah yang cukup panjang itu tercatat sebagai tempat ibadah umat Islam tertua di Jerman. Lokasinya di Jalan Columbiadamm, Tempelhof, di tengah Kota Berlin. Sehitlik berdiri dengan kubah besar dan dua menara lancip.

Kompleks masjid dan pemakaman yang masih menjadi wilayah diplomatik Pemerintah Turki itu dirancang oleh seorang arsitek Turki bernama Hilmi Senalp. Tempat ibadah ini memiliki kemiripan dengan masjid di Tokyo, Jepang, dan Askabat di Turkmenistan karena arsitek kedua masjid tersebut juga Hilmi Senalp.

Kemiripan ketiga masjid tersebut khususnya dalam rancangan interiornya yang bergaya khas Utsmani. Dari awal pembangunannya hingga beberapa kali renovasi, masjid ini sudah mengalami perluasan. Saat ini, masjid tersebut memiliki luas 1.360 meter persegi yang terdiri atas empat lantai: basement, lantai dasar, lantai satu, dan lantai dua.

Luas ini belum termasuk kantor pengurus masjid dan minimarket yang berdiri di halaman. Dengan taman dan pemakaman, luas kompleks masjid mencapai 2.805 meter persegi.

Ribuan orang dapat beraktivitas di dalamnya. Masjid tersebut juga menjadi pusat kegiatan Islami berbagai kelompok masyarakat. Mereka mengkaji Islam di dalamnya dan juga mendakwahkan agama tersebut kepada masyarakat luas.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA