Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Mali Ingin Pererat Kerja Sama dengan RI di Berbagai Bidang

Ahad 01 Apr 2018 21:31 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Citra Listya Rini

Dubes RI Dakar Mansyur Pangeran bersama Presiden Mali, Ibrahim Boubacar Keita.

Dubes RI Dakar Mansyur Pangeran bersama Presiden Mali, Ibrahim Boubacar Keita.

Foto: dok. KBRI Dakar-Senegal
Total perdagangan Indonesia-Mali tembus 31.980.900 dolar AS pada 2017.

REPUBLIKA.CO.ID, BAMAKO -- Presiden Mali, Ibrahim Boubacar Keita, mengaku sangat mengagumi Indonesia dan ingin meningkatkan kerja sama di berbagai bidang. Hal ini disampaikan Keita setelah upacara penyerahan surat kepercayaan dari Duta Besar (Dubes) RI untuk Senegal yang juga merangkap Mali, Mansyur Pangeran, di Istana Kepresidenan Mali pada Selasa (27/3).

Menurut dia, kerja sama ini dapat direalisasikan dengan mendatangkan pengusaha-pengusaha Indonesia untuk berinvestasi di Mali. Kerja sama ini termasuk transfer teknologi di bidang tekstil, tempat Indonesia selama ini telah mengimpor kapas dari Mali untuk produk tekstilnya.

Dubes Mansyur menanggapi positif peluang kerja sama transfer teknologi pertekstilan yang diusulkan Presiden Keita. Transfer teknologi tersebut memungkinkan pembuatan kapas di Mali dengan menggunakan bahan baku dari dalam negeri yang sangat berlimpah.

Sehari sebelumnya, hal yang sama juga diutarakan oleh Menteri Luar Negeri Mali, Tieman Hubert Coulibaly. Coulibaly berharap pengusaha Indonesia dapat melakukan investasi dengan membangun pabrik tekstil di Mali karena Mali memiliki produksi kapas terbesar di Afrika.

Ia juga berharap agar Dubes RI dapat menjembatani kerja sama di bidang pertanian yang sangat diharapkan oleh pemerintah Mali. Coulibaly memandang teknologi pertanian Indonesia sudah sangat maju dan ingin Indonesia dapat melakukan transfer teknologi ke Mali.

Selain itu, di bidang ekonomi Dubes Mansyur menyampaikan perlunya penguatan hubungan perdagangan kedua negara di berbagai bidang. Terutama di area industri strategis, seperti pesawat produksi PT. DI, kapal buatan PT. PAL, kereta Api buatan PT. INKA, senjata buatan PT. Pindad, pakaian militer buatan PT. Sritex, dan produk-produk lainnya.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan Indonesia, total perdagangan Indonesia-Mali mencapai angka 31.980.900 dolar AS dengan surplus di pihak Mali yang didominasi oleh impor non-migas pada 2017.

Dalam rangka penguatan hubungan bilateral, Dubes Mansyur telah menyampaikan keinginan pemerintah untuk mencari calon Konsul Kehormatan (Konhor) RI untuk Mali. Menanggapi keinginan ini, Presiden Keita menunjuk sebuah nama untuk calon Konhor RI tersebut, yaitu Ibrahima Diawara.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA