Kamis, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 Januari 2020

Kamis, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 Januari 2020

Loyalis Suu Kyi Terpilih Sebagai Presiden Myanmar

Rabu 28 Mar 2018 16:04 WIB

Rep: Crystal Liestia Purnama/Idealisa Masyrafina/ Red: Nidia Zuraya

Bendera Myanmar

Bendera Myanmar

Foto: wikipedia
Htin Kyaw mengundurkan diri sebagai Presiden Myanmar pada pekan lalu karena sakit.

REPUBLIKA.CO.ID, NAYPYITAW -- Parlemen Myanmar memilih Win Myint sebagai presiden baru pada Rabu (28/3). Sementara Aung San Suu Kyi tetap mempertahankan otoritas eksekutifnya atas pemerintah.

Win Myint adalah loyalis Suu Kyi. Sebelumnya dia adalah wakil presiden, yang kemudian terpilih sebagai kandidat presiden oleh majelis rendah dan didukung oleh partai berkuasa Suu Kyi.

Dia meraup 403 suara anggota parlemen. Sementara Myint Swe, wakil presiden dengan dukungan militer, hanya mendapat 211 suara. Sedangkan Henry Van Tio, wakil presiden yang dipilih oleh majelis tinggi, memperoleh 18 suara.

Pemungutan suara itu dilakukan ketika pemerintah sipil Suu Kyi telah berjuang untuk melaksanakan perdamaian dan rekonsiliasi nasional. Sedangkan militer yang kuat masih terlibat dalam pertempuran dengan pemberontak etnis dan di bawah kritik internasional yang berat atas kampanye kontra-pemberontakan brutal terhadap minoritas Muslim Rohingya.

Baca juga, Sekjen PBB Terkejut atas Komentar tak Manusiawi Petinggi Militer Myanmar Soal Rohingya

Seperti pendahulunya, Htin Kyaw, yang pensiun pekan lalu karena sakit, Win Myint yang berusia 66 itu adalah pendukung setia lama Suu Kyi. Dia juga anggota Liga Nasional untuk Demokrasi, afiliasi yang membuatnya harus beristirahat sebentar karena menjadi tahanan politik. Itu terjadi lebih dari dua dekade yang lalu di bawah pemerintahan militer sebelumnya.

Militer Myanmar memerintah negara itu selama setengah abad, dimana mereka dituduh melakukan pelanggaran luas sebelum sebagian menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah sipil pada 2016. Namun militer tetap bertanggung jawab atas masalah keamanan dan masih menghadapi tuduhan pelanggaran hak.

Ketika pemerintah Suu Kyi berdiri pada tahun 2016, dia menjelaskan bahwa posisinya akan berada di atas presiden. Situasi ini dapat diterima oleh presiden dan publik.

Jabatan konselor negara diciptakan khusus untuk Suu Kyi karena dia secara konstitusional dilarang menjadi presiden. Sebuah klausul dalam konstitusi militer yang disusun tahun 2008 melarang siapa pun dengan pasangan warga asing atau anak berkewarganegaraan asing menjabat jabatan itu. Ini jelas menargetkan Suu Kyi, yang kedua putranya adalah orang Inggris, seperti almarhum suaminya.

Presiden Myanmar dipilih oleh gabungan dua rumah parlemen dari tiga wakil presiden, mewakili majelis rendah, majelis tinggi dan militer. Di bawah konstitusi, militer memegang hak khusus dalam administrasi negara, termasuk 25 persen kursi parlemen dan tiga portofolio keamanan di Kabinet. Kemenangan pemilu Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) di akhir 2015 memberikan mayoritas besar di kedua rumah.

Win Myint mengundurkan diri sebagai juru bicara majelis rendah pekan lalu. Dia adalah kandidat parlemen yang sukses dalam pemilihan umum 1990, yang dibatalkan oleh militer, menyangkal kedudukannya. Ia terpilih pada tahun 2012 dan lagi pada tahun 2015.

Lahir di Delta Irrawaddy pada 1951, Win Myint memenangkan gelar geologi di Yangon, hanya untuk menjadi pengacara pada 1980-an. Keterlibatannya dengan NLD dimulai ketika negara itu dibentuk selama pemberontakan anti-militer yang gagal pada 1988, yang menyebabkan pembatasan singkatnya di penjara. Pada tahun 2010, dia menjadi anggota Komite Eksekutif Pusat partai Suu Kyi.

"Win Myint dididik sebagai pengacara dan telah setia kepada partai juga," kata Aung Shin, seorang teman dekat dan rekan kerja.

Lebih penting lagi, dia selalu bekerja sama dengan Aung San Suu Kyi dan mereka saling percaya. "Saya melihat dia sebagai orang yang sangat dapat diandalkan yang akan menjadi presiden yang hebat bagi negara ini, dan orang-orang sangat optimis tentang dia," tutur Shin.

Khin Zaw Win, direktur Lembaga Tampadipa, kelompok advokasi kebijakan, mempertanyakan apakah kesetiaan Win Myint terhadap Suu Kyi adalah sebuah aset. "Kepada mereka yang bertanya, dia akan menjadi kaki tangan selamanya dari Aung San Suu Kyi. Saya tidak berharap banyak perubahan dalam kepresidenan, kecuali Win Myint menempatkan kepentingan negara di hadapan Aung San Suu Kyi dan militer," paparnya.

Win Zaw, anggota parlemen dari partai yang lebih rendah mengatakan setelahmenjadi anggota Komite Eksekutif Pusat NLD dan pembicara dari majelis rendah selama dua tahun menunjukkan Win Myint memiliki keterampilan untuk menjadi presiden. "Kami berharap dia akan melakukan pekerjaan besar sebagai presiden, dan saya yakin dia akan menggunakan kekuatannya untuk melakukan yang terbaik yang dia bisa untuk negara," katanya.

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA