Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Indonesia 2030, Maju atau Bubar?

Senin 26 Mar 2018 05:59 WIB

Red: Elba Damhuri

Adiwarman Karim

Adiwarman Karim

Foto: Republika/Da'an Yahya
Ghost Fleet untuk mengantisipasi perseteruan antara dua raksasa ekonomi dunia.

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Adiwarman A Karim

Kejayaan Indonesia pada 2030 diprediksi oleh banyak pihak, termasuk buku Ghost Fleet. Kejayaan itu akan sirna bila Indonesia terpecah belah ibarat lepasnya Timor Timur yang dalam istilah mereka disebut the second Timor war.

McKinsey dalam risetnya, “The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential”, memprediksi ekonomi Indonesia akan menjadi ekonomi terbesar ketujuh pada 2030. Perekonomian terbesar dunia secara berurutan yang diukur berdasarkan produk domestik bruto (PDB) menurut riset itu adalah Cina, AS, India, Jepang, Brasil, Rusia, dan Indonesia.

Pricewaterhouse Coopers dalam risetnya, “The Long View: How Will The Global Economic Order Change by 2050?", menggunakan ukuran lain dalam menghitung PDB, yaitu membandingkan kekuatan daya beli suatu negara atau dikenal sebagai purchasing power parity. Dalam riset ini mereka memprediksi Indonesia berada di urutan kelima pada 2030 dan keempat pada 2050.

Pada 2030 diperkirakan bahwa urutan ekonomi terbesar dunia adalah Cina, AS, India, Jepang, dan Indonesia. Sedangkan, pada 2050 diprediksi bahwa urutannya adalah Cina, AS, India, Indonesia, dan Brasil.

JP Morgan dalam risetnya, “Asean's Bright Future”, menyebutkan tiga faktor pendukung pesatnya pertumbuhan ekonomi ASEAN, yaitu tenaga kerja yang berpendidikan, melimpahnya sumber daya alam, dan lokasi geografis yang strategis.

Ada kesamaan antara Cina, Brasil, Indonesia, dan India sebagai negara yang diprediksi akan menguasai ekonomi dunia. Keempat negara ini sedang dan akan mengalami bonus demografi, yaitu jumlah populasi usia produktif lebih banyak daripada usia nonproduktif.

Cina mencapai puncak bonus demografi pada 2016. Brasil mengalami puncaknya pada 2032, Indonesia pada 2036, dan India pada 2052. Populasi usia produktif ini dari sisi permintaan berarti pasar yang sangat besar. Dari sisi penawaran berarti tersedianya tenaga kerja untuk produksi yang juga sangat besar.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA