Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Mengintip Kehidupan Korut dari Wilayah Perbatasan Korsel

Kamis 22 Mar 2018 09:29 WIB

Red: Nur Aini

Pasukan Korea Selatan berjaga di perbatasan dengan pasukan Korea Utara.

Pasukan Korea Selatan berjaga di perbatasan dengan pasukan Korea Utara.

Foto: Reuters
Zona demiliterisasi menjadi destinasi wisata Korsel yang cukup aman dikunjungi.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Perbatasan Korea Selatan (Korsel) dan Utara (Korut) adalah salah satu wilayah paling sensitif dan paling ketat penjagaannya di dunia. Korsel dan Korut menarik garis gencatan senjata yang membentang di Semenanjung Korea, dari muara Sungai Imjingang di timur hingga Kota Goseong di barat.

Garis gencatan senjata tersebut diapit oleh dua wilayah masing-masing selebar dua kilometer. Di tempat itu, segala kegiatan militer dilarang. Dikenal sebagai Zona Demiliterisasi (DMZ), wilayah perbatasan kedua Korea itu merupakan suatu wilayah penyangga yang didirikan pada tanggal 27 Juli 1953 ketika Perjanjian Gencatan Senjata ditandatangani kala Perang Korea.

Wilayah tersebut dinilai berbahaya. Namun, tak perlu mengendap-endap dalam operasi senyap kalau sekadar ingin melihat bagaimana angkernya wilayah perbatasan Korea Selatan dan Utara karena Pemerintah Korea Selatan telah membuka DMZ sebagai salah satu tujuan wisata utama di negara Gingseng itu.

Bahkan, brosur-brosur dari agen wisata setempat yang menawarkan tur wisata DMZ disebar di hotel-hotel di Seoul. Mengikuti tur DMZ menjadi salah satu cara terbaik untuk mendatangi wilayah perbatasan Korea dan mengintip Korea Utara, yang penuh rahasia.

Dari Seoul, perjalanan menuju kompleks DMZ di Paju ditempuh kurang lebih satu jam. Mendekati tujuan, sepanjang tol menuju Paju dihiasi pemandangan pagar perbatasan dari besi dan kawat dengan latar muara Sungai Imjin.

Setiap beberapa puluh meter di pagar perbatasan tersebut terdapat pos pengamatan yang dijaga oleh personel militer berseragam lengkap dan bersenjata. Hal penting yang perlu diingat adalah harus membawa paspor ketika ke DMZ karena tentara Korsel akan naik ke bus melakukan pengecekan paspor turis sebelum menyeberangi Jembatan Unifikasi untuk tur DMZ.

Jembatan Unifikasi yang dibuka pada 1998 digunakan untuk pertukaran persediaan antara Korsel dan Korut dan mengunjungi Korut bagi warga yang memiliki keluarga di sana. Tujuan pertama dalam tur itu adalah Observatorium Dora.

Di Observatorium Dora, pengunjung bisa menyaksikan secara langsung sebagian wilayah Korut yang membentang luas di depan mata. Terdapat Sejumlah teropong binokular yang bisa diakses dengan koin 500 won untuk melihat lebih dekat desa propaganda Korut, area Kota Gaeseong, dan patung perunggu Kim Il-Seong, mantan pemimpin Korut yang meninggal pada 1994.

Tiba-tiba terdengar suatu lagu folk yang disiarkan melalui pengeras suara dari desa propaganda Korut pada sore itu.

"Itu adalah lagu propaganda, kami pun melakukannya dari sini," kata Andrew Kim, warga Korsel yang pernah ditempatkan di DMZ ketika mengikuti wajib militer.

Andrew pernah ditempatkan di General Out Post, di wilayah DMZ lain, untuk menjaga area perbatasan sejauh empat kilometer pada tahun 2009-2011. Sebanyak 120 tentara ditempatkan di sana. Setiap tentara diberi jatah senjata, 75 peluru, dan sejumlah granat.

"Setiap 1,5 jam, kami harus mengecek pagar perbatasan," kata Andrew.

Boleh jadi penjagaan yang ketat di permukaan membuat gentar siapa pun yang ingin menerobos DMZ. Meskipun demikian, pada 5 September 1974, militer Korea Selatan mendapatkan informasi intelijen yang berisi laporan tentang tentara Korea Utara yang menggali terowongan sebagai upaya infiltrasi ke wilayah Selatan.

Setelah menemukan dua terowongan di lokasi yang berbeda, Korsel menemukan terowongan ketiga di wilayah Paju, yang berjarak sekitar 44 km dari Seoul pada 1978. Terowongan ketiga tersebut memiliki panjang 1.635 meter menembus lapisan tanah keras sedalam kurang lebih 73 meter di wilayah Paju. Jalur bawah tanah dengan diameter sekitar dua meter tersebut menembus Garis Demarkasi Militer sejauh 435 meter ke arah selatan.

Para ahli menyebut terowongan tersebut didesain untuk bisa dilewati 30 ribu tentara Korut bersenjata ringan per jamnya demi melancarkan serangan tiba-tiba ke Selatan. Bahkan, rata-rata orang Asia harus menundukkan kepala untuk menyusuri terowongan klaustrofobik yang lembap dan berdinding batuan keras itu. Sayangnya, pengunjung tidak diperbolehkan membawa kamera ke dalam terowongan tersebut.

Sejak 1974, telah ditemukan empat terowongan yang melintasi DMZ dan diyakini masih banyak terdapat terowongan-terowongan lainnya yang dibangun oleh Korut. Demikian terlihat betapa kuatnya plot tentara Utara untuk menginvasi Selatan pada waktu itu.

Pengunjung yang memiliki masalah jantung, tekanan darah, dan fobia ruang sempit disarankan untuk tidak turun ke terowongan tersebut. Menuruni jalur menuju terowongan merupakan perkara yang mudah. Namun, sejumlah turis tampak kelelahan menaiki jalur menuju pintu masuk terowongan.

Wilayah Korsel dan Korut pernah menjajaki reunifikasi dengan diresmikannya jalur kereta Gyeongui Line, menghubungkan Seoul dan Stasiun Dorasan di Paju pada 2002. Baru pada Desember 2007, kereta kargo mulai beroperasi dari Dorasan membawa muatan barang ke wilayah industri Gaesung di Korut dan kembali dengan membawa barang jadi.

Stasiun Dorasan merupakan stasiun internasional paling utara di wilayah Korsel yang terletak sekitar 700 meter dari garis batas selatan DMZ. Namun, setelah setahun beroperasi, pada Desember 2008, Pemerintah Korut menutup jalur perbatasan setelah menuduh Selatan melakukan kebijakan konfrontasi.

Dorasan, yang terletak 56 km dari Seoul dan 205 km dari Pyeongyang, menjadi simbol terbelahnya Semenanjung Korea dan juga situs untuk rekonsiliasi dan reunifikasi kedua Korea pada masa depan. Sementara itu, tak jauh dari Dorasan, kehidupan terasa tenang bagi warga Tongilchon, suatu desa yang berada di sebelah utara civilian control line atau garis kendali penduduk di DMZ.

"Pendapatan utama penduduk desa itu berasal dari produk pertanian. Kalian bisa membeli produk-produk mereka ketika sampai di sana," kata Grace, warga Korsel yang membantu menerjemahkan pemandu tur DMZ.

Tongilchon dikenal sebagai Desa Unifikasi yang ditinggali oleh kurang lebih 162 keluarga atau sekitar 450 warga. Karena terletak di DMZ, tidak sembarangan orang bisa mengunjungi desa tersebut.

Desa itu pernah menjadi saksi bagaimana kedua Korea berseteru. Di pinggir salah satu jalan utama Tongilchon, terpasang sejumlah patung siluet tentara Korsel yang terbuat dari lembaran besi. Konon, lokasi tersebut adalah tempat gugurnya sejumlah tentara Korsel ketika perang berkecamuk.

Meskipun menjadi wilayah paling dijaga di dunia, sangat jarang terjadi kontak senjata di DMZ. Saat ini DMZ menjadi suatu destinasi yang aman yang direkomendasikan kepada para turis di Korsel. Karena tidak terganggu oleh aktivitas manusia, DMZ serta wilayah sekitarnya, selain memiliki berbagai situs bersejarah, juga memiliki kondisi alam yang masih asri.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA