Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Sosok Mike Pompeo yang Ditunjuk Donald Trump Jadi Menlu Baru

Rabu 14 Mar 2018 15:20 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Nur Aini

Mike Pompeo.

Mike Pompeo.

Foto: AP Photo/Manuel Balce Ceneta
Pompeo berseberangan dengan Trump soal Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Setelah berbulan-bulan selalu berbeda pandangan dengan Rex Tillerson sebagai menteri luar negeri (Menlu), Presiden AS Donald Trump akhirnya menemukan seseorang yang sejalan dengan pemikirannya. Direktur CIA, Mike Pompeo, dianggap Trump lebih tepat untuk mewakili AS di luar negeri.

Pompeo (54 tahun) adalah mantan tentara, pengusaha, dan anggota kongres konservatif yang terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat AS pada 2010. Sebagai diplomat tertinggi AS, dia akan langsung menghadapi tugas sulit terkait perundingan antara AS dan Korea Utara (Korut).

Berbicara di Gedung Putih setelah pemecatan Rex Tillerson, Trump memuji energi dan intelektualitas Pompeo. Menurut Trump, Pompeo akan menjadi Menlu AS yang memiliki kinerja luar biasa.

Trump juga menekankan hubungannya dengan Pompeo yang terjalin dengan sangat baik, yang sangat berbeda jauh dengan hubungannya dengan Tillerson. Kabarnya Tillerson bahkan pernah menyebut Trump sebagai 'orang tolol' pada musim panas yang lalu.

"Saya pernah bekerja dengan Mike Pompeo dalam beberapa kesempatan. Ia memiliki energi yang luar biasa, intelektualitas yang luar biasa, kami selalu memiliki panjang gelombang yang sama. Hubungan yang sangat baik inilah yang saya butuhkan dengan menteri luar negeri," kata Trump di Washington sebelum pergi ke California, Selasa (13/3).

Dilansir di The Guardian, Pompeo lulus dari Akademi Militer AS di West Point dan Harvard, serta pernah menjadi wakil distrik keempat Kansas selama tiga periode. Saat menjadi anggota komite intelijen Senat, Pompeo selalu mengkritik kebijakan luar negeri AS di bawah pemerintahan Presiden Barack Obama, terutama mengenai kesepakatan nuklir dengan Iran.

Trump mengatakan perbedaan pendapat dengan Tillerson mengenai kesepakatan nuklir Iran adalah salah satu alasan mengapa ia memecat mantan bos Exxon Mobil itu. Tillerson mendukung kesepakatan tersebut sebagai cara terbaik untuk mengekang ambisi nuklir Teheran. Namun, Trump justru mengancam akan menarik AS dari kesepakatan itu.

Pada 2016, sehari sebelum Trump mengumumkan dia akan menunjuk Pompeo untuk memimpin CIA, Pompeo sempat berkomentar mengenai kesepakatan nuklir Iran. "Saya berharap dapat mengatur kembali kesepakatan buruk dengan negara pendukung terorisme terbesar di dunia ini," tulis Pompeo di akun Twitter pribadinya, mengacu pada Iran.

Pemikiran Pompeo juga selaras dengan Trump tentang perubahan iklim. Pompeo mengatakan perjanjian iklim Paris akan menjadi beban mahal bagi AS. Tahun lalu Trump mengumumkan AS akan menarik diri dari perjanjian itu. Sementara Tillerson justru mendukung perjanjian iklim Paris dan mendorong AS untuk tetap tinggal.

Menurut biografinya, Pompeo telah menjalin kedekatan hubungan dengan Charles dan David Koch, industrialis miliarder yang menjadi pelindung konservatif. Mereka berinvestasi di Thayer Aerospace, sebuah perusahaan yang dibangun Pompeo bersama teman-temannya dari West Point pada 1998.

Pompeo kemudian mendekati Koch Industries yang memiliki saham di bidang minyak dan sektor lainnya, untuk membantu mendanai pencalonannya di Kongres pada 2010. Pompeo dikritik oleh kaum liberal karena mempekerjakan seorang pengacara Koch Industries sebagai kepala stafnya dan memperkenalkan undang-undang yang akan menguntungkan kepentingan Koch.

Ia mendukung praktik interogasi tahanan waterboarding dan mengatakan praktik itu bukan sebuah bentuk penyiksaan karena legal. Dia mengkritik laporan yang dikeluarkan komite intelijen Senat pada 2014 yang mengungkap penggunaan praktik tersebut oleh CIA.

"Orang-orang ini bukan penyiksa, mereka adalah patriot. Praktik yang digunakan ini ada di dalam undang-undang, di dalam konstitusi," ujar Pompeo.

Namun mengenai Rusia, Pompeo tampaknya berseberangan dengan Trump. Dalam sidang konfirmasinya sebagai Direktur CIA, Pompeo menunjukkan sikap permusuhannya dengan Rusia dan Presiden Vladimir Putin.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Gedung Putih pada Selasa (13/3), Pompeo mengatakan dia sangat berterima kasih kepada Presiden Trump karena telah mengizinkannya untuk menjadi Direktur CIA. Ia juga berterima kasih karena telah diberi kesempatan untuk menjabat sebagai menlu.

"Jika dikonfirmasi, saya berharap dapat membimbing korps diplomatik terbaik di dunia ini dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan luar negeri presiden," ujar Pompeo.

Baca juga: Resmi Dipecat, Rex Tillerson Peringatkan Trump Soal Rusia

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA